SUAKA - Perkelahian

Raka menepikan mobil ke pinggir jalan saat melihat seorang wanita dengan tampang kurus mengenakan stelan guru berjalan sambil sesekali membenarkan letak tas slempangnya. Berkali-kali Raka memencet klakson hingga wanita itu menoleh.

“Butuh tumpangan?” tanyanya sambil membuka kaca mobilnya.

“Hei,” sapa wanita itu tersenyum ramah, dia juga melambai pada Arsa yang duduk di kursi penumpang yang ada di samping Raka.

“Naiklah, tujuan kita sama. Lagipula kita juga tetangga,” kata Raka.

Wanita yang tak lain adalah tetangga mereka itu mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Wajahnya yang ramah tersenyum pada Arsa yang menoleh ke belakang.

“Hallo bu guru, senang bertemu denganmu!” sapa Arsa.

“Senang juga bertemu denganmu, Arsa.”.

Raka memperhatikan anak dan gurunya itu lewat kaca mobil, sesekali dia tersenyum saat mendengar percakapan keduanya. Dia juga merasa senang karena sepertinya Arsa akrab dengan tetangga baru mereka.

Setelah sampai di sekolah, Arsa mendahului mereka berlari ke kelas. Raka keluar dari mobil bersama Varsha yang juga hendak mengajar.

“Terima kasih,” kata wanita itu.

“Ibu Varsha, nanti sepulang sekolah mampir ke rumah kami. Aku dan Arsa kemarin memancing dan menangkap ikan yang banyak,” kata Raka.

Wanita yang dipanggil Varsha itu tersenyum, lalu mengangguk dan meninggalkan Raka sendirian di depan mobilnya. Tak lama kemudian, dia pulang lalu mendapati Fazwan yang masih tidur, karena semalaman menemani Arsa yang rewel bermain dan minta dibacakan dongeng. Untung saja Raka berhasil membangunkan Arsa pagi-pagi yang harus ke sekolah.

***

Seperti biasa, kafe eudaemonia selalu ramai oleh para pengunjung Dan tumben sekali hari itu, Ishan dan bawahannya tidak mengunjungi kafe mereka. Raka dan Fazwan lega, merasa aman akan ketidakhadiran dua orang militer itu. Laila seperti biasa tetap datang bekerja, walau sesekali mereka mengobrol saat sedang tidak ada pesanan.

Raka jadi ingat bahwa dia sudah mengundang Varsha, tetangga barunya itu untuk mampir di rumahnya sepulang sekolah. Dia mengambil ikan pada lemari pembeku dan mulai memasak. Membiarkan Laila dan Fazwan mengurus kafe, sementara dia berkutat di dapur rumahnya.

***

“Kau tidak punya ibu, makanya kau dekat dengan ibu guru, ya?” teriak anak kribo yang satu kelas dengan Arsa.

Arsa hanya diam saja dan sesekali melirik bocah nakal itu. Anak kribo itu mendorong Arsa hingga menabrak meja, sementara beberapa siswa lainnya histeris melihat mereka, waktu itu baru jam istirahat dan belum ada yang beranjak meninggalkan kelas. Arsa bangun dari jatuhnya, ia merasakan perih di bagian bokong saat menabrak meja berbentuk persegi itu.

“Kau hanya punya ayah, tidak dapat kasih sayang ibu!” lagi-lagi bocah kribo itu berteriak, Arsa jadi geram, dia berlari menerjang si kribo dan menarik rambutnya. Tidak mau kalah, si kribo membalas Arsa dan terjadilah pertengkaran antara dua murid kelas itu. Sesekali Arsa menarik baju si kribo hingga keluar juga memutus kancing bajunya, si kribo pun tidak mau kalah, dia menindih Arsa dan menampar wajahnya.

Untung saja ibu guru Varsha datang dan melerai mereka. Beberapa guru yang lain melihat tingkah kedua bocah kecil itu dan hanya geleng-geleng kepala. Sebagian heran melihat kelakuan para siswa kelas dua yang bertengkar, main pukul seperti preman. Ada juga beberapa guru yang bergumam kesal dan langsung meninggalkan kelas mereka.

***

Varsha memberikan tugas untuk muridnya yang lain lalu membawa kedua anak itu –Arsa dan si Kribo– keluar dari sekolah. Ada sebuah kafe di seberang sekolah, tempat di mana dia biasa bertemu dengan sahabatnya, Avanti. Varsha memesankan kedua bocah itu dua gelas susu. Dia baru sadar, bahwa pipi kiri Arsa lebam berwarna merah, Varsha langsung berlari mencarikan hansaplast untuknya, beberapa menit kemudian dia kembali. Beruntungnya, kedua anak itu hanya diam di tempat sambil menyeruput gelas susunya.

“Ibu mau tanya, anak-anak yang baik jawab yang jujur, ya.”

Varsha menghela panjang, “Yang pertama kali memulai pertengkaran siapa?”.

Arsa dan si Kribo menatapnya, kemudian mereka saling tatap satu sama lain dan menunduk, lalu menyeruput minumannya masing-masing.

“Anak-anak, ibu janji tidak akan marah,” kata Varsha pelan.

Kedua anak itu masih saling curi-curi pandang.Varsha menoleh pada Arsa, “Siapa yang memulai perkelahian?” tanyanya.

Arsa mengangkat kepala, pelan-pelan tangannya menunjuk si Kribo.

“Benar?”

Si Kribo hanya tertunduk malu.

“Dia bilang aku tidak punya ibu,” Arsa menunduk hendak menangis.

Varsha mengelus lembut rambut Arsa, “Andi, tidak boleh begitu. Bukan kemauan Arsa tidak punya ibu, hanya saja--” Varsha berhenti sejenak dan memperhatikan Arsa yang menunduk menangis, “Ibunya sudah berbahagia di surga sana. Ibunya Arsa selalu mengawasi Arsa di surga sana, selalu melihat apakah Arsa berkelakuan baik atau tidak. Makanya, Arsa juga harus tetap jadi anak yang baik, ya.”

Arsa mengangguk,

“Sekarang kalian harus bersalaman agar ibu guru tidak marah. Ayo Andi, Arsa, kalian harus berbaikan, lalu kita segera kembali ke kelas,” kata Varsha.

“Maafkan ya, Arsa,” kata Andi,

Arsa tersenyum.

Mereka berdua berdiri, lalu berpelukan satu sama lain. Varsha hanya tersenyum melihat kedua muridnya yang sudah berbaikan itu.

Mereka masih anak-anak. Batinnya.

Lalu mereka bertiga kembali ke kelas dan bergabung dengan teman-teman kelas lainnya untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh ibu guru mereka.

***

“Ayah dengar ... Arsa berantem di sekolah, ya?”

Bocah berumur delapan tahun itu hanya menunduk. Dia tidak berani menatap mata ayahnya. Suasana sekolah sudah mulai sepi. Hari itu, Raka sengaja menjemput anaknya karena mendengar bahwa anak laki-lakinya itu membuat keributan di sekolah. Raka duduk di depan anaknya sambil berusaha mendapatkan bola mata bocah kecil itu. Bocah itu selalu saja membuang pandangan ke arah lain, tidak berani menatap bola matanya.

“Kenapa bisa terjadi seperti ini?” Raka melihat jelas luka memar di pipi anaknya.

“Ibu Varsha sudah mengobatiku,” seloroh Arsa.

Raka menghela panjang, “Arsa, ayah tidak pernah mengajar Arsa berantem. Jadi jangan diulangi, ya,” kata Raka lembut pada anaknya.

“Tapi dia duluan ayah, dia bilang aku tidak punya ibu makanya aku dekat dengan ibu Varsha,” kata Arsa mulai terisak.

Raka mendekati anaknya dan memeluknya erat, Arsa menangis. Raka mendekap anaknya, menenangkan anaknya yang meraung.

“Aku tidak punya ibu seperti mereka, huuu ...” berulaang kali Arsa mengucapkan kalimat itu sambil tergugu.

Raka menggendongnya dan langsung membawa anaknya masuk ke dalam mobil. Raka berjongkok di luar mobil sambil mengelap wajah anaknya yang sudah basah oleh air mata. Bocah itu sesenggukkan memandangi ayahnya, Raka tersenyum getir.

“Kan, masih ada ayah yang sayang sama Arsa. Ayah juga bisa jadi seorang ibu, buktinya ayah juga bisa masak. Jika teman-teman Arsa bilang begitu lagi, katakan pada mereka, ayahku bisa melakukan semuanya,” Raka mengacak-acak rambut anaknya. “Hari minggu mau ke makam bunda?” tanya Raka yang langsung mendapat anggukkan dari Arsa.

“Bagus! Anak pintar,” kata Raka lalu menutup pintu mobil.

***

Dari kejauhan, seseorang memperhatikan tingkah antara ayah dan anak itu. Sesekali dia tersenyum, tiba-tiba saja dia mengagumi ayah dari bocah itu. Lelaki yang bahkan mudah sekali menghentikan tangis anaknya. Dia mulai sadar saat Raka melambai padanya, lalu ia mendekat sambil membawa tas dan bukunya.

“Masuklah! Arsa butuh mengobrol dengan wali kelasnya,” gurau Raka.

Varsha tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.

“Hei Arsa.”

“Hei ibu guru.”

“Sudah merasa lebih baik?”

Arsa menoleh ke belakang, lalu mengangguk. “Hari ini ibu guru jadi mampir ke rumah kami? Ayah sudah memasak ikan hasil tangkapan kami kemarin hari minggu,” kata Arsa yang sudah kembali berceloteh ria seperti biasa.

Raka dan Varsha tertawa,

“Kita akan membawa ibu guru langsung ke rumah!” kata Raka.

“Yeay!” teriak Arsa di dalam mobil, yang lagi-lagi membuat kedua orang dewasa itu tertawa lebar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah