SUAKA - PROLOG

Sesaat tangan kirinya terkepal dan mulutnya membisu ketika mendengar seseorang yang berbicara lewat sambungan telepon yang sejak tadi menempel di telinganya, Matanya membulat seketika. Di pelupuk mata, air bening itu keluar dari sudut hingga membentuk genangan sungai di pipinya. Kalau saja ia tidak langsung menarik gagangnya kembali, mungkin benda itu sudah terkulai mengudara di samping kakinya. Dunianya terhenti sesaat, tapi kesadarannya kembali saat seseorang menyerukan namanya.

Bagaimanapun juga dia harus kembali!

Dia buru-buru berlari di antara debu-debu yang beterbangan dan terik yang panas. Mobil jip yang tiba-tiba muncul dari arah berseberangan dan berisi lima orang yang berpakaian tentara itu membuat ia sedikit lega. Lencana yang mereka kenakan menunjukkan bahwa pangkat kelima orang itu lebih tinggi darinya.

Dia memutuskan untuk berhenti.

Teriakan kolonel yang tidak setuju dengan keputusannya itu mengikuti udara yang diam-diam lewat di sekitar mereka. Wakil kolonel tetap menenangkan dan berbicara dengan hati-hati. 

"Ini tidak seperti kau yang biasa."

Dia hanya diam.

Dia tidak akan menyesal. Justru hal yang membuat ia lebih menyesal adalah jika ia tidak bisa lagi menjadi seseorang yang berguna bagi keluarganya.

"Pikirkan sekali lagi!" seru lelaki yang berada di hadapannya itu. Dia tidak mungkin semudah itu melepas tentara hebatnya itu.

Militer adalah hidupnya, melindungi negara adalah cita-citanya. Seseorang bangga padanya setelah ia berhasil menjadi militer.

Sekarang sudah tidak lagi. 

Orang itu sudah tiada, maka sudah tidak ada lagi yang memberi motivasi untuknya selama ia berada di pangkalan militer. Padahal, padahal, ah ... dia merasa sedih sekali, dia merasa nasib buruk baru-baru ini datang di hidupnya. Seharusnya ia berada di sana, seharusnya ia mengawasi dan menjaganya dengan baik. 

Takdir. Yang biasa dikatakan oleh orang-orang itu. Kematian adalah takdir Tuhan, siapapun tidak bisa lari dari kematian. 

Maka tekadnya sudah bulat. Dia sudah tegaskan akan berhenti dan melepas lencananya. Ia menyampirkan ransel dan meninggalkan semua kawan-kawan yang turut memberikan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah