SUAKA - Sebuah Makam
Sebuah restoran cepat saji yang terletak di pinggiran kota. Lumayan ramai pengunjung, salah seorang guru merekomendasikan tempat itu untuk makan malam. Dan di sinilah Varsha berada, bersama para guru dengan tampilan yang berbeda. Baik para guru yang berbeda satu atau dua tahun darinya ataupun delapan tahun di atasnya.
Dia datang bersama Avanti. Seperti biasa, temannya itu kelihatan lebih mencolok di antara para guru-guru yang ada di sana. Varsha pun begitu, dia kelihatan lebih natural dan cantik dengan celana blues panjang dan kemeja merah muda. Rambutnya dibentuk seperti ekor kuda, dia kelihatan sangat muda di antara para guru walau sudah menikah.
“Avanti Lavani. Pak guru dan Ibu guru bisa memanggil saya, Avanti. Saya adalah teman Ibu Varsha,” kata Avanti memperkenalkan diri dan duduk di dekat Ardi. Padahal Varsha sudah menyediakan tempat di sampingnya.
Avanti yang awalnya enggan untuk ikut bersama Varsha, malah wanita itu sepertinya menikmati obrolan bersama para guru lainnya. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Varsha saat dia tengah asyik mengobrol dengan Ardi, seorang guru muda yang beda setahun dengannya. Lelaki itu juga sepertinya menikmati obrolan mereka.
“Ooh ... temanku memang agak kaku kalau bersama laki-laki.”
Varsha diam-diam mencuri dengar obrolan Avanti dan Pak guru muda itu. Lain kali dia tidak akan mengajak Avanti pergi ke acara seperti ini. Serasa ia disudutkan oleh Avanti. Belum lagi para Ibu guru yang tidak berhenti bergosip. Kalau begini, Varsha lebih memilih berada di rumah daripada di tempat keramaian seperti ini, dia juga tidak memiliki bahan obrolan dengan para guru lainnya. Avanti pindah dan duduk di sebelahnya, lalu membisiki Varsha, “Kalau aku jadi kau, aku juga tidak mau bergabung dengan para Ibu guru yang besar mulut itu.”
“Hush,” Varsha melotot pada temannya itu.
Pesanan datang dan semua mulai makan. Saat makan, pun, suasana di meja makan tetap saja ramai. Sampai hidangan penutup datang, lalu Varsha dan Avanti pamit meninggalkan tempat itu. Beberapa guru lainnya, mungkin sekedar basa-basi menyuruhnya untuk tinggal lebih lama lagi, namun Varsha membuat alasan bahwa dia sudah berjanji akan mengunjungi tempat saudaranya.
“Kau betah juga ya mengajar di sana?” Avanti angkat bicara saat mobil mereka melaju di jalanan besar.
“Aku senang dengan suasana di sekolah itu, juga anak-anaknya,” sahut Varsha. Meskipun dia jarang mengobrol dengan para guru lainnya, setidaknya kadang mereka menyapanya, walau itu hanya sekedar basa-basi saja.
“Ngomong-ngomong lelaki itu, maksudku pak guru muda itu. Dia sepertinya menyukaimu, dia sangat tertarik membicarakan dirimu. Apakah kau tidak mau mencobanya lagi?” tanya Avanti.
Varsha melotot, seolah dari tatapannya menolak dengan pasti. “Apa maksudmu? Kau tidak bermaksud menjodohkanku dengan dia, kan?”
“Tidak. Aku tidak bilang mau menjodohkan kalian. Aku hanya ... bertanya, apakah kau mau mencobanya lagi jika ada lelaki yang mendekatimu? Tidak mesti pak guru muda itu, kan,” tanya Avanti.
Varsha tidak menjawab. Dia tidak berani bilang tidak. Meskipun dia sudah menikah, tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin suatu hari nanti, dia menginginkan seseorang untuk menemaninya dan hidup di sisinya.
“Vanti, aku tidak tahu pasti ... mungkin suatu hari nanti aku pasti menginginkan seseorang di sisiku, tapi tidak sekarang. Kau harus janji, jangan pernah menjodohkanku dengan siapapun. Oke!”
“Oke, oke ... jadi malam ini, apakah aku boleh menginap lagi di rumahmu?” tanya Avanti.
Varsha tidak mempermasalahkan berapa haripun temannya itu mau menginap, dia mengangguk. Dan ngomong-ngomong, dia senang memiliki Avanti sebagai temannya. Wanita itu sangat perhatian, juga sering menolongnya. Bahkan dulu saat mereka bekerja di kantor yang sama, Varsha sering curhat soal keluarganya. Avanti selalu bisa menghiburnya, pertemanan mereka awet hingga saat ini.
***
Makam itu sepi. Di masing-masing pusara putih yang berdiri di atas gundukan tanah itu tertulis nama orang yang sudah meninggal. Raka, Arsa dan Fazwan berada di depan sebuah pusara. Makam Lembayung Meera. Raka duduk sambil menaburkan bunga warna-warni. Sementara Fazwan mencabuti rumput-rumput yang menutupi bagian atas makam. Arsa hanya berdiri dan menempel pada ayahnya sambil memandang makam ibunya.
“Katakan sesuatu untuk Ibu!” bisik Raka pada Arsa. Bocah itu duduk di sampingnya, sebentar menoleh pada ayahnya, lalu kembali memandang pembaringan terakhir ibunya.
“Aku rindu Ibu,” katanya pelan. Lalu lagi menoleh pada ayahnya dan tatapannya kembali pada pusara ibunya. “Aku sudah kelas tiga, suasana sekolah sangat menyenangkan. Aku bertemu dengan teman-teman yang banyak. Ibu, tetangga di samping rumah kita adalah wali kelasku. Namanya Ibu Varsha, dia sangat baik hati. Ibu Varsha juga kadang menemaniku untuk menunggu ayah saat pulang sekolah. Oh iya Ibu ... kemarin aku dan ayah pergi memancing, sangat menyenangkan. Kami mendapat ikan yang sangat banyak. Hehe,” kalimat Arsa semakin mengalir, seolah mendiang ibunya sedang berada bersamanya. Seperti anak yang lain, yang tentu saja akan menceritakan kisah yang seru, kisah yang tidak akan pernah dilupakan.
Fazwan memperhatikan wajah Raka yang lesu dan senyuman yang tampak dipaksakan. Fazwan sadar, bahwa kesedihan Raka muncul lagi setiap kali mengunjungi makam sang istri, oleh karena itulah lelaki itu jarang, bahkan sudah tiga tahun tidak pernah datang ke tempat ini lagi. Raka mengelus lembut punggung anaknya, setelah Arsa selesai bercerita di depan makam ibunya.
“Sudah? Ayo pulang,” kata Raka.
Mereka meninggalkan tempat itu dengan perasaan kalut, juga dirundung rindu, tenggelam dalam perasaan dan pikiran masing-masing. Terutama bagi ayah dan anak itu. Meskipun Raka tidak mengatakan apapun di depan makam sang istri, setidaknya dia sedikit merasa lega.

Komentar
Posting Komentar