SUAKA - Seorang Teman

Sudah satu jam berlalu dan wanita itu belum beranjak dari restoran itu. Tiga gelas jus yang sudah ditenggak habis berjejer di atas meja. Orang yang duduk di meja sebelahnya baru saja keluar, sementara dia masih memandangi orang-orang yang lalu-lalang lewat jendela restoran. Pemandangan yang sangat menyenangkan di waktu senggang.

Avanti Lavani, wanita dengan rambut cokelat sepunggung itu mengalihkan pandang ke arah ponselnya yang sejak tadi digeletakkan di samping tangannya.

Kenapa dia belum menelepon juga? Padahal mereka sudah janjian untuk bertemu hari ini. Batinnya.

Sudah baik karena dia mau bertemu dan datang lebih awal. Suara lonceng di pintu restoran itu berbunyi saat seseorang baru saja masuk dan berjalan ke arahnya. Wajahnya yang sejak tadi tanpa ekspresi kini berubah dengan senyuman lebar.

Aku baru saja keluar kelas. Aku harus menunggu murid-muridku untuk menyelesaikan tugas yang kuberikan.

Varsha Zanita langsung mendudukkan bokongnya di atas kursi restoran. Ia duduk di hadapan Avanti yang langsung menggerak-gerakkan tangan di depan wajah.

Tidak apa-apa,katanya. Avanti memanggil seorang pelayan dan memesan minuman untuk mereka berdua.

Aku tidak akan lama karena setelah ini aku harus masuk kelas lagi,kata Varsha.

Sesekali Varsha memperhatikan sekeliling. Tempat ini asing baginya, terutama orang-orang yang berada di sekitar mereka. Dia hanya orang pindahan dari kota tetangga, lalu memutuskan untuk tinggal di kota yang baru.

Iya, aku tahu. Apakah kau menyukai pekerjaanmu yang sekarang?tanya Avanti.

Varsha bergeming. Kenapa tiba-tiba temannya menanyakan hal itu? Dia adalah seorang manajer sebelum dia menikah. Persis seperti Avanti, mereka bekerja di perusahaan yang sama. Setelah menikah, dia dan mantan suaminya membuat kesepakatan agar suaminya yang bekerja sementara dia akan mengurusi rumah. Karena terlalu sering bekerja di rumah, dia jadi jarang merawat diri.

Tapi sekarang dia hanya seorang janda yang diceraikan dan juga seorang guru SD. Tidak menutup kemungkinan bahwa dia bahagia dengan kondisinya sekarang. Guru SD, bertemu dengan anak-anak kecil yang sangat diidam-idamkan sejak dulu, meski bukan darah dagingnya. Kini dia hanya seseorang yang tinggal sendirian dan tanpa ikatan apapun.

Aku menyukainya,katanya setelah lama diam.

Avanti menghela, dia memutar bola mata sambil menaruh kedua tangan di atas meja, Dengar! Jika kau mau kembali lagi ke perusahaan, aku akan membantumu. Perusahaan masih sangat membutuhkanmu, mereka membutuhkan pemikiran-pemikiranmu, Sha,kata Avanti.

Aku menyukainya. Aku menginginkannya sejak dulu, mengurus anak-anak dan juga bisa bermain dengan mereka ….

Mereka adalah anak-anak yang sudah besar dan mempunyai orang tua. Sadarlah Sha, kau hanya seorang pendidik,potong Avanti. Nada suaranya yang tinggi membuat orang-orang yang masih berada di restoran menoleh ke arah mereka berdua.

Seorang pendidik tidak terlalu buruk, Avanti,kata Varsha tidak terima.

Aku bisa mengatur kencan dengan seseorang kalau kau mau. Kalau kau tidak keberatan, aku bisa ….

Tidak. Jangan begitu, Avanti. Kau temanku, kau seharusnya mendukungku. Aku tidak mau kembali ke pekerjaan yang dulu. Aku menikmati pekerjaan yang sekarang, jadi kumohon, jangan memaksaku. Dan dukunglah keputusanku ini,kata Varsha yang membuat Avanti menghela panjang.

Pesanan mereka sudah datang, Avanti langsung meneguk gelas ke empatnya sementara Varsha membuang wajah ke arah jendela, tidak habis pikir kenapa Avanti bersikeras agar dia kembali ke perusahaan tempat mereka bekerja dulu. Padahal, dia menginginkan pertemuan yang baik-baik dengan wanita itu. Saling berpelukan, menceritakan hari-hari terbaik mereka atau setidaknya merencanakan liburan bersama.

Ayolah,kata Varsha sembari memegang jemari wanita itu. Kau harus mendukung keputusanku,katanya lagi.

Temannya itu hanya acuh dan tetap saja tanpa suara.

Avanti menghela panjang membuat Varsha sebal melihatnya.

Baiklah, baiklah, tapi kalau ada apa-apa kau harus memberitahuku, jangan menyembunyikan masalahmu sendirian,kata Avanti.

Varsha berdiri dan langsung menghambur memeluknya. Avanti kaget dengan pelukan yang tiba-tiba itu hanya mengerjap beberapa kali, Sudahlah, orang-orang sedang melihat ke arah kita,katanya mencoba melepas pelukan Varsha yang semakin mengerat.

Kalau begitu, aku harus kembali sekarang. Sudah waktunya masuk kelas. Kau bisa berkunjung ke rumahku setiap sore, aku menunggu kedatanganmu,kata Varsha menghabiskan minumannya lalu berlari ke arah pintu restoran. Dari balik jendela restoran, Varsha melambai pada Avanti dan temannya itu menyungging lalu membalas lambaiannya.

***

Dia datang lagi,kata Fazwan saat suara lonceng di atas pintu kafe mereka berbunyi.

Lelaki yang baru saja tiba itu hanya tertawa lebar saat Raka menoleh. Sebenarnya dia tidak terlalu mau meladeni lelaki itu. Tapi mau bagaimana lagi, karena dia adalah atasan mereka saat berada di kemiliteran dulu.

Aku mau pesan teh rosalie,pesan lelaki itu pada Laila. Laila mengangguk dan pergi ke dapur.

Raka menghampiri. Dia hanya heran, kenapa lelaki itu dua hari ini selalu datang berkunjung ke tempatnya? Perhatian para pengunjung teralih kepadanya karena seragam militer yang ia kenakan.

Aku ingin bertemu dengan anakmu,katanya saat Raka sudah duduk di hadapannya. Tapi tujuannya ke sini tentu bukan karena itu. Melainkan ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu.

***

Tiada gunung terlalu tinggi

Buat kami daki disiang hari

Tiada jurang terlalu dalam

Buat kami turuni dimalam gelap

Hutan rimba (hutan rimba)... padang lalang (padang lalang)...

Kususuri jalanan jauh

Panas terik hujan berangin

Majulah... Ayo Maju... (Ayo Maju)

Pantang menyerah (pantang menyerah) Hati kami (hati kami)

Karena mental fisiknya

Pasukan jalan kakilah

Menyapu lawan semua (menyapu lawan semua)

Baru-baru ini, ada kasus peredaran obat-obatan terlarang di daerah perbatasan. Divisi Tiga yang baru saja kembali dari tugas harus diterjunkan langsung ke daerah tersebut. Sebagian para anggota mengeluhkan hal itu. Mereka baru saja selesai dengan tugas penyelidikan Barang illegal kini ditambah lagi dengan menangkap para pengedar obat-obatan yang diduga komplotan teroris itu.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa, ini sudah merupakan perintah atasan. Kita sebagai pembela negara, pembasmi kejahatan harus siap dengan segala tugas yang diberikan. Maaf karena kalian tidak jadi liburan hari ini,kata lelaki yang baru saja turun dari mobil jip berwarna cokelat itu.

Caraka Kencana, aku menyerahkan seluruh tanggung jawab di sini padamu. Laporkan semuanya padaku,kata lelaki itu lagi.

SIAP!

Saat Raka berumur dua puluh tujuh tahun. Tubuhnya tinggi, tegap, dan wajahnya kelihatan serius. Seharusnya dia pulang tahun ini untuk bertemu dengan istrinya. Dia merindukan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah melakukan sumpah setia untuk tunduk, patuh dan membela negaranya. Dia hanya menunggu sampai misi ini selesai, kemudian pulang dan bertemu dengan orang yang dicintainya itu.

Keberadaan Letnan hanya sebentar, dia hanya datang untuk memeriksa keadaan. Sepuluh menit setelah kepergian sang Letnan, Raka mengajak seluruh anggotanya berkumpul, mengatur strategi dan pembagian tugas lainnya. Mereka akan bekerja nanti malam.

Jika pelaku memberontak, kita boleh melakukan perlawanan. Asal jangan sampai membunuh pelaku, kita harus membawa pelaku hidup-hidup,kata Raka di tengah terik siang yang menyengat.

Para tentara seperti mereka sudah biasa dengan keadaan seperti itu. Mereka juga sudah diajarkan tentang tugas dan tanggung jawab yang akan diemban sejak pendidikan militer. Bagi mereka, hidup dan mati adalah jaminan negara.

Pada malam hari saat mereka menjalankan misi, beberapa pasukan berpencar untuk menyerbu markas tempat para pengedar obat-obatan itu. Raka dan seorang wakilnya yang tak lain adalah Fazwan mengendap-endap di tembok lusuh dan sudah berlumut di bagian dasarnya. Ada sebuah jendela kayu yang tertutup rapat. Sial, mereka tidak melihat apa-apa. Fazwan menemukan sebuah ember cat yang tergeletak asal di antara rerumputan yang meninggi. Raka naik dan mengintip lewat ventilasi jendela. Tidak ada siapa-siapa, hanya siluet cahaya rembulan yang masuk lewat celah-celah ventilasi jendela.

Sebelum mereka mendobrak tempat itu, Raka memberi aba-aba pada pasukannya agar berpencar dari arah selatan dan barat. Mereka juga harus memeriksa bagian belakang, tujuannya adalah untuk mengepung tempat itu, siapa tahu mereka menemukan barang bukti.

Seseorang berteriak, Siapa di sana?Raka menarik Fazwan sehingga mereka tengkurap dan bersembunyi di antara rerumputan ilalang.

Derap langkah orang itu terdengar, mereka menahan nafas yang dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, mereka menggerakkan tubuh dengan posisi tengkurap ke samping.

Ada apa?suara seseorang yang lain muncul lagi, Bos menyuruh kita mengantar barang panas. Cepatlah, kau tidak mau mendengar omelan pedas dari bos kita kan? Ayo,dari suaranya, orang itu terdengar kesal.

Sebentar, tunggu sebentar aku seperti melihat ada seseorang di sana,katanya belum mau pergi.

Siapa? Aku tidak melihat siapa-siapa di sana. Nanti aku akan memberimu manatol, cepatlah,katanya.

Setelah kepergian kedua orang itu, Raka dan Fazwan merasa lega. Tidak salah lagi, orang-orang itu berada di dalam gubuk. Buktinya ada dua orang itu, malam ini mereka akan bergerak lagi untuk mengedarkan barang panas yang tadi disebutkan oleh si pelaku.

Dengan perlahan, Raka dan Fazwan mendekati gubuk persembunyian itu, seseorang dari arah barat muncul, hampir saja Raka dan Fazwan tengkurap menggeletakkan tubuh di antara rerumputan ilalang itu lagi.

Mereka sudah pergi. Tapi kami menemukan sesuatu kapten,serunya.

Raka dan Fazwan mengikuti anggota divisinya itu, mereka masuk lewat pintu belakang yang tidak dikunci. Di atas meja yang besar, ada berkilo-kilo heroin menumpuk di sana, ada lima bungkus kina dan lima bungkus manatol serta sepuluh jarum suntik. Ada satu buah jarum suntik bekas, kapas kotor dan lima puntung rokok yang bergeletakkan menyebar di atas lantai yang berkarat, mungkin orang-orang yang baru saja pergi itu sudah menggunakan benda itu.

Mereka belum tahu ke mana para pengedar mengirimkan obat-obatan terlarang itu, tapi setidaknya mereka sudah mendapat barang bukti untuk dibuat sebagai laporan dan diserahkan ke pusat.

Sang Letnan yang mengetahui hal itu datang lagi. Dia membawakan wine dan mengajak tentara-tentara di divisi tiga untuk berpesta pada malam harinya sebelum satu hari ke depan, mereka harus kembali menyelesaikan misi.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah