SUAKA - Suatu Malam di Sebuah Bar
Suara ketukan sepatu gadis itu berbenturan dengan musik yang baru saja di putar oleh DJ Katherine. Gadis berusia 26 tahun itu itu baru saja kembali dari mengantar minuman kepada bos-bos besar yang sedang meeting di ruang VIP mereka. Namun tampaknya, dia begitu sial. Salah seorang bos kaya menariknya dan membuka setengah kancing kemejanya, memintanya untuk menemani mereka sepanjang malam.
Dia belum terbiasa dengan peraturan tempat kerjanya.
Bahkan sebenarnya dia hanya ingin menjadi seorang pelayan. Madam Laras muncul di ambang pintu bersama Nawang dan Arum. Dua gadis yang setahun di atasnya mendahului Madam Laras, sementara wanita yang sudah berumur tiga puluhan tahun itu menungguinya di ambang pintu.
“Ganti pakaianmu dan layani yang lain!” suruhnya setengah berbisik. Gadis itu melihat muka tebal Madam Laras yang sebal padanya.
Dia mengangguk, melangkah buru-buru dan sekarang duduk di kursi meja bar yang kosong. Oh, dia belum memperbaiki kancing kemejanya. Dia melipat tangannya di atas meja, memperhatikan para pengunjung yang tengah di kelilingi oleh anak-anaknya Madam Laras. Kalau saja dia tidak butuh uang pengobatan untuk penyakit leukimia yang di derita oleh adiknya, dan untuk kebutuhan mereka sehari-hari, mungkin dia tidak akan bekerja di tempat seperti ini.
Sayangnya, dia hanyalah yatim piatu, yang sejak berumur 20 tahun sudah mulai bekerja karena sang paman yang tidak mau lagi menanggung biaya hidup keponakannya sendiri. Dia pusing, bagaimana caranya dia menemukan pelanggan seperti anak-anak Madam Laras? Sekitar dua minggu yang lalu, dia baru masuk di tempat ini. Lalu dua hari yang lalu, Madam Laras menawarkan pekerjaan tambahan untuknya agar gajinya naik, kontan dia sepakati saja tanpa menanyakan pekerjaan seperti apa yang ia kerjakan karena tergiur gaji yang naik.
Apakah hanya menemani pelanggan seperti yang dikatakan oleh madam Laras? Pikirnya saat itu.
Menemani katanya? Mereka mengobrol, menggoda, bahkan sampai mengajak tidur. Kenapa ia begitu polos sekali?
Ada seseorang di sana. Di lantai dua sedang duduk sendirian tengah memperhatikannya. Udara di sekitarrnya berasap karena rokok, di atas mejanya ada satu botol minuman keras. Sekilas mata mereka bertemu, gadis itu tersenyum. Dia tidak perlu khawatir, karena mangsa sudah datang dengan sendirinya. Dia segera pergi meninggalkan meja bar menuju ruang ganti, lalu kembali lagi tanpa menggunakan make up. Dia berharap, semoga tamu laki-laki itu tidak meminta yang tidak-tidak padanya.
Lelaki itu akan menjadi pelanggan pertamanya. Wajah yang tenang dan mata yang kelihatan sedih, nampaknya lelaki itu butuh teman untuk bicara. Dia memantapkan langkah menuju lelaki yang tengah duduk sendirian itu dan duduk di sampingnya. Gadis itu melihat dengan jelas wajah kaget lelaki itu.
“Ah ... maaf, bolehkah saya duduk di sini?” Gadis itu bertanya dengan sangat hati-hati dan ragu. Tapi lelaki yang di sana hanya duduk mengabaikannya.
***
Cakrawala Adib kabur dari kantor setelah dia menyelesaikan penyelidikannya dan menyuruh temannya untuk datang ke bar yang sering mereka kunjungi. Tapi sudah hampir satu jam-an dia menunggu, temannya tak juga datang. Dia bersitatap dengan seorang pelayan muda yang kelihatan tampak frustasi. Orang-orang pasti banyak masalah. Sementara dia sendiri sudah sejak awal memang punya banyak masalah. Seharusnya dia tidak berkeliaran seperti ini sekarang. Istrinya keguguran, dia bercerai, bahkan sampai sekarang dia tidak tahu di mana keberadaan istrinya. Dia juga sering datang ke rumah mertuanya, berharap mendapatkan informasi soal istrinya, tapi sayang ... katanya mereka tidak tahu.
Apakah mungkin mereka sengaja menyembunyikan keberadaannya agar mereka tidak pernah bertemu lagi? Pikirnya. Padahal dia sangat mengkhawatirkan wanita itu.
Sebuah tangan menyentuh bahunya yang berhasil membuatnya kaget. Gadis muda yang tadi bertemu tatap dengannya, yang kini penampilannya sudah berbeda. Dia tidak lagi berdandan dan rambutnya digerai ke bawah.
“Ah ... maaf, bolehkah saya duduk di sini?”
Rupanya dia masih sangat polos. Tidak seperti gadis-gadis muda yang biasa dulu menemaninya minum. Gadis itu baru. Mungkin dialah pekerja yang paling muda di tempat ini. Sebelum Cakra mempersilahkannya duduk, gadis itu sudah duduk duluan menempati kursi yang seharusnya sudah sejak sejam yang lalu ditempati oleh temannya.
“Namaku, ah ... nama saya Sekar Delati,” kata gadis muda itu tiba-tiba memperkenalkan diri tanpa disuruh.
Cakra tidak juga menyahut juga tidak menoleh. Tatapannya menerawang ke arah lain, dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Sekarang, yang ada dipikirannya adalah bagaimana caranya agar dia bisa menemukan istrinya, mengajaknya rujuk, lalu pulang ke rumah dan mereka akan mengulang kehidupan yang baru, kehidupan yang lebih baik sebagai sepasang suami istri. Lagi. Tapi apakah Varsha akan mau kembali padanya? Sekarang saja, wanita itu sudah lama bersembunyi darinya. Cakra menutup mata cukup lama.
“Ambilkan dua botol bir untukku!” suruhnya tiba-tiba.
Gadis muda itu lantas pergi ke meja bar dan memesan dua botol lagi. Ah, sudah berapa botol yang diminumnya? Dua botol sebelumnya sudah diambil oleh pelayan dan satu botol yang ada di atas mejanya kini hampir habis. Sekarang dia mau dua botol lagi, benar saja ... alkohol membuat seseorang merasa jauh lebih baik, tidak ada yang dipusingkan, tidak ada yang ditakuti, tidak ada yang perlu dipikirkan. Tapi dia belum sampai dibatas itu, dia masih memikirkan wanita itu.
Gadis itu kembali, menaruh dua botol bir di atas meja. Lalu dengan sigap dia mengambil satu botol dan meneguknya cepat. Dia mengingat bagaimana saat anak pertama mereka meninggal, menyalahi istrinya hingga mendiamkan wanita itu berbulan-bulan, juga dia yang jarang di rumah. Dia mengingat pertengkaran mereka, saat pertama kali dia menampar istrinya, mendorong tubuh wanita itu ke pintu, membiarkan istrinya menangis sendirian. Hingga suatu hari kata ‘cerai’ itu keluar begitu saja dari mulutnya, setelah dia memarahi dan memaki istrinya. Wanita itu membawa barang-barangnya dan langsung meninggalkan rumah.
“Dia meninggalkanku,” gumamnya tiba-tiba. Kini dia menyesal dan merindukan wanita itu.
“Siapa?” tanya gadis muda yang ada di sampingnya.
“Wanita itu … ” dia jatuh dari kursinya, gadis itu membantunya kembali duduk.
Cakra tertawa, “Maukah kau menemaniku semalaman? Dan berapa aku harus membayarmu?” Lelaki itu sudah mabuk, matanya kelihatan sayu.
Dia menggenggam tangan gadis muda itu, namun gadis itu berusaha untuk melepas genggaman tangan Cakra yang dalam keadaan mabuk tetap memaksanya, dia menjauh dan Cakra lagi-lagi terjatuh dari kursinya. Gadis itu masih gemetar, tidak berani dekat-dekat dengannya saat mencoba kembali duduk ke kursinya. Cakra mengacak-acak rambutnya karena berdiri pun dia tak bisa, sementara gadis muda itu tidak mau menolongnya.
“Kau di sini rupanya,” seseorang muncul dan berlari menghampiri Cakra.
“Ah ... Detektif Suwa Praja. Temanku yang baik hati, kenapa kau baru datang?” Cakra dalam keadaan teler, dia menepuk-nepuk wajah temannya.
“Ayo pulang!” lelaki berjaket kulit itu membantu Cakra berdiri. Mereka hendak pergi dari tempat itu, “Maaf,” katanya pada gadis muda yang memperhatikan mereka. Gadis berwajah polos itu hanya mengangguk, lalu mereka keluar dari tempat itu.
***
Suwa Praja, lelaki bermata sipit itu melempar tubuh Cakra di atas tempat tidurnya. Dia hanya tidak menyangka bahwa temannya masih saja suka mabuk-mabukkan. Sejak kapan ya? Ah ... sejak Cakra mengetahui bahwa anaknya meninggal dalam kandungan istrinya. Mereka adalah teman baik, juga satu tim dalam penyelidikan kasus pembunuhan.
“Karena inilah Varsha tidak mau lagi kembali padamu,” gumamnya pelan, dia menyelimuti Cakra lalu meninggalkannya.
Rupanya Cakra tidak tidur, dia membuka mata. Benar, karena kelakuannya inilah Varsha tidak pernah mau kembali lagi padanya. Dia sadar, bahwa dirinya sangat mencintai Varsha. Jika wanita itu kembali, dia berjanji akan berhenti mabuk-mabukan. Jika wanita itu kembali, dia berjanji akan sungguh-sungguh menyayanginya. Jika wanita itu kembali, dia berjanji akan membuat wanita itu bahagia sebelum dirinya. Jika wanita itu kembali ... Cakra menenggelamkan diri dibalik bantal, berteman air mata dan mengadu pada kesunyian.

Komentar
Posting Komentar