SUAKA - Surat Untuk Ayah

Seharian ini Arsa hanya berada di kamar. Biasanya, dia selalu mengajak Fazwan bermain di kafe saat pamannya itu sedang senggang. Tapi hari ini, bocah kecil itu tidak mau diganggu. Beberapa kali Raka mengetuk pintu kamarnya, tapi bocah kecil itu selalu menyahut Jangan mengganggu, aku sedang ada pekerjaan.” Raka tidak tahu apa yang tengah di kerjakan oleh anaknya itu di dalam kamar, bahkan bocah itu juga melupakan sarapan.Tidak mungkin,kan kalau dia seharian hanya mengerjakan tugas sekolah di dalam kamar? Pikir Raka.

Raka berdiri di dekat meja salah satu pelanggannya, ada seseorang yang dikenal tengah mengulum senyum dengan kening berkerut. Mungkin heran, mengapa Si Pemilik kafe harus mendatanginya saat dia mau bersantai ria di siang hari. Wajah Raka balas tersenyum ramah,

“Apakah ada sesuatu yang istimewa di sekolah? Seharian ini anakku mengurung diri di kamar,” katanya.

Wanita itu menatapnya bingung. Dia mengingat-ingat, jadi besok adalah Perayaan Hari Ibu di sekolah, para guru juga mengundang para ibu-ibu untuk melihat pentas seni yang akan di tampilkan oleh para siswa mereka, lalu akan ada pemberian hadiah dari anak-anak untuk ibu mereka. Hadiah apa saja, bisa berupa benda, puisi, makanan, lagu dan sebagainya.

Arsa belum memberitahumu?”

Soal apa?”

“Ada undangan dari sekolah. Besok adalah Hari Ibu dan sekolah mengundang para ibu untuk menyaksikan anaknya unjuk kreativitas.”

Suasana hening. Wanita itu baru sadar bahwa lelaki itu sudah tidak beristri dan anaknya sudah tidak memiliki ibu. Tapi Varsha tidak bermaksud menyinggung hal itu, “Kau bisa datang!” Varsha mencoba mencairkan suasana. “Asalkan ada yang mewakili, datanglah ... Arsa membutuhkanmu,” tambahnya.

Raka mengernyit, lalu setelahnya dia berbalik dan meninggalkan wanita itu. Dia penasaran apa yang akan diberikan oleh Arsa untuknya. Tapi sampai saat ini dia mencoba menahannya. Hanya saja, mengapa dari kemarin Arsa tidak memberikan undangan itu padanya? Kenapa dia menyembunyikan hal itu darinya? Perayaan Hari Ibu, mungkin Arsa akan merindukan ibunya lagi, meski sebelumnya mereka pernah mengunjungi makam sang ibu.

***

Arsa keluar dari kamar dan menenggak habis susunya yang sudah dingin. Raka bersender di tembok sambil melipat tangan di bawah dada memegang nampan makanan yang baru saja diantar untuk pelanggan. Raka mendengar pintu kamar anaknya terbuka, sehingga dia langsung menaiki tangga. Meminta kejelasan soal undangan yang dititipkan oleh sekolah.

“Ehm ....” Raka berdehem saat Arsa menaiki meja membuka isi tudung makanan, kelaparan karena tidak sarapan tadi pagi. Bocah kecil itu turun kembali dan menarik sudut bibirnya lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang kecil.

“Ayah, aku mau roti.”

Raka menarik kursi dan duduk di dekat Arsa. “Mana undangan dari sekolah?” tanyanya.

Arsa melotot, sepertinya bocah itu baru saja ingat kalau kemarin dia menerima undangan dari sekolah untuk diberikan pada ayahnya. Arsa berlari menuju kamarnya, membongkar tas sekolah dan menemukan undangan berwarna cokelat itu. Dia keluar lagi dan mendapati ayahnya masih berada di sana.

“Ayah harus datang. Ini acara sekolah kami dan akan banyak penampilan-penampilan dari kakak kelas,” kata Arsa setelah duduk di dekat ayahnya sambil menyantap makanannya. “Karena Ibu tidak bisa datang, untuk itu Ayah yang harus datang,” ujarnya disuapan berikutnya.

Raka mengelus-elus punggung Arsa yang sedang makan, lalu dia beriungsut pergi meninggalkan putra kecilnya sambil membawa undangan dari sekolah. Dia turun menemui Fazwan yang tengah kerepotan membawakan nampan-nampan pesanan para pelanggan. Dalam pikirannya, Arsa pasti kecewa karena –Meera–, mendiang ibunya tidak bisa hadir disaat semua teman sekelasnya merayakan Hari Ibu dengan ibu mereka.

Sebagai seorang kepala keluarga, dia sudah berusaha. Dia sudah berusaha menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu untuk putra kecilnya itu. Dia akan datang, bagaimanapun juga, Arsa menginginkan kehadirannya. Seperti kata pelanggan wanita itu. Dia bisa datang,kan?

“Kudengar besok ada acara Hari Ibu di sekolah ArsaFazwan menghampirinya.

Lelaki itu sudah tidak tergesa-gesa lagi seperti sebelumnya. Mereka kini sudah mulai beristirahat sementara para pengunjung tengah menikmati pesanannya. Di sebuah meja konter, Raka meletakkan undangan cokelat dari sekolah. Fazwan dan Leila bergantian membacanya, “Kalau Arsa menginginkan kau untuk datang, mengapa tidak? Bukankah kau adalah satu-satunya keluarga yang ia punya? Atau kalau kau mau, mungkin Leila,” Fazwan melirik ke arah Leila yang tengah memelototinya,

Raka melirik pada Leila yang jelas-jelas menolak.

“Dia tidak mau, maka terpaksa aku yang datang.”

Hmm,’ Fazwan nyengir. “Ngomong-ngomong, apakah kau tidak kepikiran untuk memacari seseorang saat ini?” Fazwan memulai lagi, padahal dia sendiri masih melajang sampai sekarang. “Aku punya seseorang yang mungkin bisa kau pikirkan dan mudah untuk kau dekati.” Fazwan memutari meja konter dan mengambil segelas air putih dari dispenser.

Apa-apaan itu? Lagipula, dia sudah punya anak dan ingin fokus pada usahanya sendiri. Berpacaran seperti ala anak muda rasanya tidak sesuai umurnya yang hampir menginjak tiga puluh enam tahun itu. Dan lagi, mana ada wanita yang mau kalau dia jadi super sibuk mengurusi anak dan membantu usahanya. Pikir Raka.

“Aku berpikir bahwa wali kelas Arsa menarik. Bagaimana menurutmu?” Fazwan berbisik tepat di telinganya membuat Raka menjauh beberapa senti dari sahabatnya itu. Jangan-jangan Fazwan berencana untuk menjodohkannya dengan Varsha? Astaga Padahal Raka tidak begitu dekat dengan Varsha, bagaimana mungkin Fazwan bisa kepikiran kalau mereka berdua bisa bersama. Dan sepertinya, Varsha tipikal wanita yang sulit untuk didekati. 

“Jangan bicara asal. Cepat kembali bekerja!” Perintah Raka meninggalkan Fazwan dan Leila yang sesekali curi pandang sambil meledeknya.

***

Riuh tepuk tangan dari para tamu undangan setelah penampilan teater ‘MAKE’ dengan judul ‘Cinderella dan Sandal Ajaib’. Kemudian dilanjutkan dengan pementasan paduan suara dari kelas lima dan beberapa persembahan puisi dari anak-anak kelas satu sampai kelas tiga. Arsa duduk di deretan bangku ke tiga barisan ke empat. Dia belum melihat ayahnya berada di ruangan, sementara para undangan lain dan gurunya sudah berada di dalam ruangan. Sampai saat ini, dia belum juga melihat batang hidung ayahnya.

“Kau sudah siap? Sebentar lagi kau akan tampil.” Ibu guru Varsha sudah berdiri di sampingnya. Dia mendekati bocah kecil yang sedari tadi matanya liar ke segala arah, seperti mencari sesuatu. Raut wajahnya juga nampak gusar karena matanya tidak menemukan apa yang dicari.

“Kenapa ayah belum datang juga?” Suara Arsa terdengar parau dan hampir menangis.

Varsha ikut mencari-cari, meliarkan pandangannya ke segala arah. Dan tepat saat matanya tertuju pada pintu, Raka sudah berdiri dengan kemeja abu-abu bergaris sambil mengulum senyum dan melambai ke arah mereka berdua.

“Lihat, orang yang kau cari sudah datang,” bisik Varsha di telinga Arsa.

Kursi yang Arsa tempati duduk terdorong ke belakang begitu saja, wajahnya kembali sumringah. Matanya kembali fokus pada kertas kecil yang sejak tadi berada di genggamannya. Dia akan mempersembahkan untuk ayahnya. Meski tema yang diusung sekolah adalah Hari Ibu, tapi baginya ... sang ayah memiliki dua peran. Di satu sisi dia bisa lembut seperti seorang ibu, di satu sisi juga ayahnya sangat bijak dan perhatian.

Kemudian saat namanya dipanggil dari microphone, Arsa langsung beringsut berdiri dan menuju panggung kecilnya. Panggung pertamanya, ini kali pertama dia berdiri di depan orang banyak. Awalnya wajahnya kelihatan menegang, bola matanya tertuju pada ayahnya yang tengah berdiri di belakang para tamu undangan lainnya. Sang ayah mengacungkan kedua jempol dan tepuk tangan untuknya. Arsa menutup kedua matanya lalu menarik nafas dan mengeluarkannya pelan. Dia sudah siap, membuka kertas lipatnya dan mendekatkan bibirnya pada microphone yang sudah menyala.

 

Dear Ayah,

Aku menyayangimu, sebanyak bintang yang menempel di langit dan membiarkan sinarnya yang kecil menerangi gelapnya malam.

Dalam diammu, aku selalu khawatir... apakah ayah sedang marah padaku, atau aku sudah membuat ayah sedih? Apakah aku bukan anak yang baik? Aku tidak mau melihat air mata ayah, karena ayah adalah segalanya bagiku, juga... aku adalah segalanya bagi ayah.

Dear Ayah,

Kau adalah orang yang hebat, ayah yang luar biasa dan selalu menjadi kebanggaanku. Karena pada akhirnya, apa yang membantuku mengatasi tantangan bukanlah otak, tapi seseorang yang menggenggam tanganku dan takkan melepaskannya. Yaitu, kau ayah, yang kasih sayangnya tiada batas.

Dear Ayah,

Terima kasih untuk hari-hari yang kau berikan. Di waktu-waktu dan kejadian yang selalu kau tawarkan, dan terima kasih sudah menjadi ayah juga ibu untukku. Ayah... I Love You.

Begitulah penggalan surat cinta Arsa untuk Raka. Riuh tepuk tangan haru dari para tamu undangan. Arsa turun dari panggung kecilnya, dia berlari menuju tempat ayahnya berdiri dan langsung memeluk lelaki itu. Para tamu undangan menyaksikan kedua orang itu, terpukau dengan aksi manis antara ayah dan anak itu. Riuh tepuk tangan kembali terdengar lagi, semua orang meriuh menyaksikan sika antara ayah dan anak penuh haru itu.

“Ayah bangga padamu, nak,” kata Raka sambil melepas pelukan putra kecilnya, lalu Arsa mengecup pipi ayahnya dan kembali ke tempat duduk bersama teman-teman sekelasnya.

***

“Mau pulang bersama?” tawar Raka pada Varsha, saat lelaki itu melihatnya keluar dari gedung pentas. Perhelatan Hari Ibu sudah usai, para tamu undangan sudah bubar dan beberapa para guru juga sudah pulang. Sepertinya Raka dan Arsa sengaja menunggunya di bawah pohon yang ada di dekat lapangan sekolah.

“Boleh. Tunggu sebentar, aku mau ambil tas dulu,” katanya meninggalkan mereka berdua.

Namun seorang lelaki dengan langkah terburu-buru mengejar Varsha, hingga langkah mereka beriringan. Ardi yang sejak awal melihat Varsha kelihatan akrab saat mengobrol dengan ayah Arsa tidak mau ketinggalan. Padahal dia sudah berencana untuk mendekati partner mengajarnya itu, tapi sepertinya lelaki itu sudah harus mundur sekarang. Buktinya mereka akan pulang bersama. Ardi sendiri tidak pernah berhasil mengajak Varsha untuk berkencan atau hanya makan berdua, apalagi sepertinya Varsha selalu menanggapinya biasa-biasa saja.

“Ibu Varsha sudah mau pulang, ya?”

“Iya.”

“Ibu Varsha mengenal ayah Arsa, ya? Kalian kelihatan sangat akrab sekali.”

“Hubungan kami hanya sebatas guru dan orang tua murid, lagipula kami juga bertetangga. Dia menawariku pulang bersama karena rumah kami searah,” kata Varsha lalu mengambil tas dan meninggalkan ruang guru.

Ardi hanya manggut-manggut, tapi baginya, tidak seperti apa yang dilihat. Duda dan janda, mereka berdua adalah orang yang ditinggalkan. Siapa bilang tidak akan ada hubungan spesial di antara mereka berdua? Apalagi kelihatannya mereka seperti sepasang keluarga yang bahagia dan bisa saling melengkapi.

Bersama Arsa dan ayahnya, Varsha bisa tertawa puas. Bahkan dia juga bisa bercanda bebas dengan bocah kecil itu. Mereka bertiga beriringan menuju mobil Raka yang terparkir di depan sekolah. Varsha tidak peduli kalaupun ada guru yang melihatnya bersama dengan ayah Arsa. Dia sudah kebal akan gosip-gosip yang entah, besok atau kapan, pasti akan menyebar di sekolah.

“Penampilanmu sangat luar biasa,” puji Varsha pada Arsa saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Mereka berdua duduk di belakang.

“Benarkah? Aku tidak mau mengecewakan semua orang. Terutama ayah.”

Raka melirik putranya dari kaca mobil, diam-diam dia menarik kedua sudut bibirnya. Merasa senang karena anak laki-lakinya sangat membanggakannya. Mata Varsha beralih ke kaca mobil, dan untuk sesaat mata mereka bertemu. Seulas senyum malu-malu terpatri di wajah Varsha.

Varsha melambai setelah keluar dari mobil Raka dan kepala Arsa keluar dari jendela. Bocah itu masih melambai selama mobil berjalan pelan. Setelah mobil itu menghilang dari jalan, Varsha membuka pagar rumahnya. Ada suatu keganjalan, karena sebelum Varsha pergi ke sekolah, pagarnya tertutup rapat. Tapi sekarang slotnya terbuka dan pasti ada seseorang yang sudah membuka pagarnya.

Apakah Wara tadi mengunjunginya atau bisa jadi Avanti, kah? Tidak mungkin. Kedua orang itu pasti menghubunginya dulu kalau mereka mau berkunjung. Siapa yang datang saat dia tidak di rumah? Tapi pikiran negatif itu segera menghilang karena hanya akan menakut-nakuti dirinya sendiri. Toh dia mengunci rumahnya, jadi pasti akan aman.

Namun saat dia membuka pintu rumahnya, Varsha terkesiap. Wajahnya menegang dan matanya melebar. Pintu tertutup dan dia hanya berdiri menelan ludah.

Dari mana dia tahu?

Siapa yang berhianat dan memberitahunya?

Dia berada di sana. Orang yang selama ini ingin dihindarinya kini tiba-tiba muncul dan berada di dalam rumahnya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah