SUAKA - Tante Yang Aneh

Bel tanda istirahat berbunyi, beberapa siswa keluar kelas dan langsung pergi ke kantin, ada pula yang masih berada di dalam kelas sedang menunggu temannya hendak bersama-sama keluar dari kelas. Varsha merapikan buku-bukunya, lalu meninggalkan ruangan. Sesekali ia tersenyum pada murid-murid yang menyapanya di lorong sekolah.

“Nanti malam, ada acara makan bersama para guru. Ibu Varsha ikut, ya!” Ardi tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangnya. Sepertinya lelaki itu juga baru saja keluar dari kelas. Mereka berjalan bersisian menuju ruang guru.

“Saya tidak janji, Pak,” sahut Varsa sambil tersenyum. Ia teringat bahwa Avanti masih menginap di rumahnya, dia tidak tega jika harus meninggalkan temannya itu. Apalagi Avanti sedang sedih akibat diputuskan oleh pacarnya, walau biasanya Avanti tidak seperti itu. Bahkan hari ini juga dia minta cuti kerja dua hari.

“Ayolah Bu ... jarang-jarang loh kita makan bersama dengan para guru-guru kalau tidak satu tahun sekali. Memangnya ada hal yang mengganggu Ibu Varsha sehingga tidak bisa hadir?” tanya Ardi menghadang Varsha di depan ruang guru.

“Saya ada teman di rumah Pak. Maaf.”

Ardi menyingkir dan memberikan jalan untuk Varsha. Wanita itu tidak suka dipaksa, meski dengan keluarganya apalagi dengan rekan kerjanya. Varsha langsung menuju meja kerjanya, matanya bergerak saat melihat bulatan merah yang beberapa hari lalu ditandai olehnya. Pasti sebentar lagi para guru akan mengadakan rapat, setelah rapat selesai, mereka akan membicarakan soal makan bersama malam ini. Tak heran, jika Ardi sudah mewanti-wanti hal itu.

Berarti anak-anak akan dipulangkan cepat. Bagaimana dengan Arsa? Pasti anak itu akan menunggui ayahnya hingga siang di depan sekolah. Ia menghawatirkan Arsa. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada muridnya? Maka dia buru-buru mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Lalu mengotak-atik kontaknya.

Belum saja Varsha menemukan nama seseorang yang dicari di daftar kontaknya, wakil kepala sekolah tiba-tiba sudah berdiri di depan ruang guru. Beberapa guru yang lainnya menghampiri lelaki yang hampir lima puluh tahun itu. Ternyata, hari ini mata pelajaran di jam keempat dan seterusnya ditiadakan. Seluruh guru harus memulangkan murid-murid karena ada rapat, benar saja dugaannya. Setelah dia menemukan nama kontak yang dicari, Varsha merasa lega. Namun suara bel berbunyi dan dia harus kembali ke kelas, lalu segera memulangkan murid-muridnya.

“Kenapa dia lama sekali mengangkatnya?” gumamnya sambil berjalan ke kelas. Orang itu tidak mengangkat teleponnya.

Semua murid berdiri dan mengucap salam padanya lalu kembali duduk. Varsha menaruh ponselnya di atas meja, kemudian mengatakan, “Hari ini ada rapat para guru, jadi kalian dibolehkan pulang cepat,” kata Varsha.

 Suara sorak sorai murid-muridnya yang gembira karena mereka pulang sekolah lebih cepat dari jam biasanya. Varsha menenangkan kembali, “Tapi sebelum itu kalian harus berdoa dulu,” tambahnya.

Semua murid mengikuti perintah wali kelasnya itu, lalu mereka baris-berbaris di deretan meja masing-masing. Seperti biasa, Varsha akan memilih deretan siswa yang berbaris rapi dan membiarkan mereka pulang duluan. Setelah seluruh siswanya keluar dari kelas, Varsha lagi-lagi berusaha menghubungi seseorang. Dan akhirnya berhasil juga, saat suara wanita dari seberang menjawab panggilannya. Dia menyungging tipis.

‘Kau di rumah?.. Baguslah... Apakah kau bisa datang ke sekolah di tempatku mengajar?.. Ah, tidak.. Umm, Avanti .. kau ingat anak kecil tetanggaku itu?.. Iya.. Benar.. Begini, hari ini aku ada rapat.. Apakah aku bisa meminta bantuanmu?... Kalau kau mau.. Bisakah kau menjemputnya?’ 

Varsha menjauhkan ponsel dari telinganya, suara Avanti berubah seperti ibu-ibu yang tengah memarahi anaknya,

‘Ayolah.. Bukankah keluarganya sudah mengijinkan mobilmu parkir di halaman rumahnya?..’ 

Varsha menduga kalau Avanti pasti sedang cemberut.

‘Tidak bisa... Ayahnya pasti sedang sibuk melayani para pelanggan di jam seperti ini.. ayahnya sudah banyak membantuku.. ayolah.. Avanti.. Ku mohon, kasihan anak itu.. Dia pasti sendirian menunggu ayahnya sampai siang hari.. Avanti, Avanti..’ 

Suara temannya hilang selama dua puluh detik, ‘Terima kasih.. Dia sedang menunggu di pos ronda.. Sampai jumpa di rumah..’ Varsha mengakhiri pembicaraannya di telepon, lalu bergegas ke ruang rapat.

***

Di mana anak itu?

Avanti menilik gerbang sekolah lewat spion mobilnya. Bukannya pergi kerja, dia malah keluyuran di depan sekolah. Wanita itu menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu memperhatikan sekeliling. Kalau saja dia tidak menerima telepon dari temannya –Varsha, mungkin dia sudah bersantai di kafe eudaemonia atau dia akan menonton televisi di rumah temannya. Namun sekarang Avanti harus menjemput anak sekolah, padahal saat dia mengambil mobilnya, Avanti bisa langsung saja mengabari ayah anak itu. Karena menghormati temannya yang memohon agar dia sendiri yang datang menjemput anak kecil yang belum terlalu dikenalnya itu, akhirnya Avanti datang ke sekolah SD dan menuju pos ronda yang ada di dekat gerbang sekolah.

Bocah kecil itu meringkuk di sudut pos ronda, pantas saja Avanti tidak melihat ada siapa-siapa di sana. Riasannya terlalu mencolok, sehingga beberapa satpam yang tengah berjaga di pos menoleh padanya.

“Hallo  apakah kau masih mengingatku?”

Avanti memasang senyum manisnya sambil melambai pada anak-anak. Oke, jangan memikirkan reputasi dan sebagainya, yang penting dia harus bisa mengajak anak ini pulang bersamanya.

Arsa mengangkat kepalanya dan memandangi wanita yang kini duduk di pos ronda itu. “Siapa?” tanya Arsa polos.

Ini hanya anak kecil. Avanti tidak perlu kesal. Di umurnya yang sudah lumayan ini, dia harus bisa mengontrol emosi, ini hanya anak kecil dan dia adalah orang dewasa. Hal itu wajar jika seorang anak kecil melupakan wajah seseorang yang pernah ditemui. Wajar.

“Oh, tante temannya Ibu Varsha, ya?” kata Arsa setelah mengingat-ingat. Wajahnya kelihatan lebih ceria.

“Iya ... kau ingat, kan? Walau kita tidak banyak bicara semalam, tapi aku senang kau masih mengingat wajahku,” seru Avanti senang. “Ayo pulang!” katanya, tapi bocah itu tidak bergerak dari tempat duduknya.

“Aku mau menunggu ayah,” katanya.

“Kalau kau menunggunya di sini, kau akan sendirian. Ayahmu akan datang nanti siang,” kata Avanti.

“Kau tidak akan menculikku lalu memakanku, kan? Kata Paman Fazwan, aku harus hati-hati pada orang asing. Dan kau adalah orang asing, jadi aku harus berhati-hati padamu,” kata bocah itu polos.

Hah?

Avanti melongok. Kenapa anak-anak ditakut-takuti dengan hal bodoh seperti itu? Bukankah itu malah akan mengganggu mental mereka? Ketakutan pada orang-orang yang baru saja mereka temui, meskipun orang itu tidak berbuat jahat padanya. Itulah yang menyebabkan anak-anak kadang anti sosial dan jadi apatis terhadap sekitarnya.

“Tidak. Aku tidak suka makan anak-anak, aku lebih suka makan yang manis-manis, seperti gula,” kata Avanti. “Ayolah, aku bukan orang jahat. Aku teman wali kelasmu, ayahmu juga ... mengenalku,” Avanti tidak begitu yakin pada kalimat terakhirnya. “Dan aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumah. Aku janji,” katanya lagi.  

“Ayo ...” dia mengulurkan tangannya, kemudian bocah kecil itu meraih tangan Avanti. Mereka bergandengan hingga ke mobil.

***

Sementara itu di sebuah ruangan, para guru sedang menunggui kepala sekolah yang belum juga datang. Para guru yang lain sedang asyik mengobrol, terutama guru-guru perempuan lainnya. Suara mereka memenuhi ruangan. Di sebuah kursi deretan ketiga, wanita yang lebih muda diantara guru-guru lainnya duduk tidak tenang. Dia tengah mengkhawatirkan sesuatu, bukannya dia tidak mau bergabung dan mengobrol dengan para guru lainnya. Hanya saja, dia tidak suka mendengar gosip-gosip buruk para guru yang dibicarakan atau soal orang tua murid dan sebagainya. Walau begitu, Varhsa tetap baik jika mereka baik padanya.

Ya Tuhan, tangannya sudah tidak sabar ingin menekan tombol panggilan seseorang, juga telinganya yang ingin mendengar kabar apakah temannya itu sudah tiba di sekolah dan menemukan muridnya? Bagaimana dengan muridnya? Varsha ingin sekali keluar dari ruang guru, tapi dia takut jika Pak Kepala Sekolah datang saat dia sedang tidak ada di ruangan.

***

Avanti menyetel musik keras-keras di dalam mobilnya, membuat Arsa yang tadi duduk santai kaget di sampingnya. Karena mendengar lagu barat kesukaannya di putar, tubuhnya bergerak-gerak, bahkan dia melepas tangan kirinya dari stir. Arsa yang masih polos hanya memperhatikan gelagat wanita itu.

“Apakah tante ini gila?” sayangnya Avanti tidak mendengar kata Arsa karena suara musik yang terlalu keras. Mungkin suaranya sampai didengar oleh para pengemudi di luar saking kerasnya, Arsa hanya menggeleng sambil melipat tangan di bawah dada sebal.

Sesampainya di halaman kafe eudaemonia, Avanti mematikan musiknya dan keluar bersama Arsa. Bocah itu berlari menerobos masuk ke dalam kafe dan langsung menghampiri ayahnya, Fazwan juga Leila yang sedang berkumpul di dekat meja kasir. Sedangkan Avanti, melangkah ke dalam kafe dan langsung mencari meja kosong, lalu di sanalah dia duduk. Matanya tidak bisa diam mencari bocah yang langsung main kabur begitu saja.

Itu dia,

Mata mereka bertemu saat bocah kecil itu tengah menunjuk ke arahnya. Raka berjalan menghampiri Avanti diikuti oleh Arsa yang berjalan di sampingnya.

“Hallo ... teman Varsha,kan, kita belum berkenalan,” kata Raka, dia duduk di kursi yang ada di depan wanita itu sehingga mereka berdua saling berhadap-hadapan, sementara Arsa hanya menempel pada ayahnya. “Kalian duluan pergi semalam,” tambahnya.

“Ah ... benar. Saya Avanti, senang berkenalan dengan Anda. Jangan salah paham, Varsha sangat memedulikan anakmu. Bahkan dia tidak mau mengganggu waktu bekerjamu, jadi dia meminta tolong padaku untuk menjemputnya di sekolah.”

“Aku tidak salah paham. Senang juga karena kau sudah menjemput dan mengantar anakku dengan selamat sampai ke rumah, terima kasih.Raka tersenyum.

“Pelayanmu di mana? Aku mau memesan makanan,” kata Avanti.

Raka menjentikkan jemari tangannya dan Fazwan segera menghampiri mereka. 

Raka dan Arsa meninggalkan wanita itu yang sedang dilayani oleh Fazwan. Walau sesekali Arsa melirik ke arahnya, lalu menarik tangan Raka dan membisikinya sesuatu. Dari kejauhan Avanti hanya menghela panjang.

Rupanya selera temannya sudah berubah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah