LAKUNA - Rebas
Dia bangun.
Gadis berusia sepuluh tahun dengan rambut ikal sepunggung itu terbangun.
Sesuatu mengganggu tidurnya. Kepulan asap itu memenuhi langit-langit kamarnya. Sepertinya asap itu masuk lewat ventilasi jendela. Dia bingung, darimanakah asal asap-asap yang kian jadi lebih banyak itu?
“Ibu,” lirihnya pelan.
Raut wajahnya berubah.
Takut akan apa yang dia lihat di sepanjang lorong rumahnya.
Api itu semakin membesar, melalap seluruh yang ada di dalam rumah. Tirai-tirai jendela berubah jadi raksasa nyalang kemerahan. Gadis itu berlari mencari kamar kedua orang tuanya,
Mereka pasti masih berada di dalam. Pikirnya.
Malam itu, hanya dia yang tahu bahwa si jago merah sudah melalap seluruh ruangan. Sementara, kedua orang tuanya masih terlelap.
“Ayah, Ibu ...” panggilnya.
Dia melesak di antara puing-puing kayu yang sudah berjatuhan.
Saat dia berhasil menggapai gagang pintu kamar kedua orang tuanya, tiba-tiba sebuah potongan kayu jatuh hendak menimpanya. Beruntung dia menghindar. Namun potongan kayu itu membawa pasukan api yang melalap lemari kayu dan buku-buku milik ayahnya.
“Ayah, Ibu ...” teriaknya lagi.
Pintu terbuka. Di dalam sana, dia dapati ibunya tengah terjebak oleh panel pilar kayu penuh api. Sementara ayahnya sedang berusaha menolong.
“Pergi! Selamatkan dirimu, kami akan menyusul,” kata ayahnya.
Dia melirih, “Ayah, Ibu ....”
“Pergi!”
Dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari ibunya yang kelihatan melemah.
“Pergi!”
Lagi-lagi ayahnya menyuruhnya meninggalkan tempat itu.
Dengan berat hati, dia mengambil langkah. Namun sesekali menengok ke belakang, melihat ayahnya yang berusaha menyelamatkan kaki ibunya dari potongan kayu yang sudah dilalap oleh api.
Gadis itu berlari sambil menangis. Sesekali dia menghindar dari bara api yang jatuh dari atasnya, sesekali pula dia menghindari percikan api yang juga mengenai kakinya yang telanjang. Setidaknya, dia harus selamat dulu. Kemudian meminta pertolongan pada orang-orang.
Sesaat dia merasa lega setelah berada di luar rumah. Namun tampaknya api yang berada di hadapannya sudah membentuk raksasa, membuat dia terkulai lemas dan jatuh ke tanah. Bagaimana nasib kedua orang tuanya yang masih berada di dalam sana? Api yang membara, melalap seluruhnya. Seharusnya, dia meminta pertolongan, tapi pada siapa?
Tetanggapun tak punya.
Dia harus keluar dari hutan untuk bisa sampai ke desa. Namun kaki telanjangnya serasa melepuh akibat kobaran api yang menjalar di ubin lantai yang barusan dipijakinya.
Gadis itu memeluk lutut sambil menangis.
“Mereka akan keluar, mereka akan selamat,” gumamnya.
Selama satu jam berlalu, tidak ada yang datang. Namun dia terus menggumam, “Mereka akan datang. Mereka akan menemuiku lalu bersama-sama keluar dari hutan,” lirihnya lagi.
Dua jam berlalu.
Kobaran api melalap habis rumahnya.
Kobaran api itu terlihat jelas pada kedua iris matanya yang membulat, “Mereka tidak keluar.”
Teriakannya membelah malam yang panjang. Dia tidak melihat siapapun keluar dari pintu rumahnya itu.
Mereka tidak akan pernah keluar lagi. Dia membatin.
Sebelum fajar naik, dia meninggalkan rumah yang tinggal puing-puing abu itu. Di tengah hutan yang gelap, tangisnya pecah, membelah udara, menyusuri pepohonan yang besar dan tinggi.
Tiba-tiba, tangan seseorang menyentuh bahunya, “Gadis manis, apa yang terjadi?”
Lelaki jangkung itu duduk di hadapannya.
“Rumahku terbakar, orang tuaku tidak keluar dari rumah,” katanya.
“Tenanglah.”
Dia jatuh dalam pelukan lelaki jangkung yang mengusap lembut punggungnya itu.

Komentar
Posting Komentar