SUAKA - Egois

Cakrawala Adib menggeledah lemari di dalam rumah itu. Menjatuhkan semua barang-barang yang ada di rak hingga membiarkan semuanya berantakan di atas lantai ruangan. Wajahnya memerah dan rambutnya kusut. Sore hari tanpa sepengetahuan si pemilik rumah, dia sudah mengacau seperti orang gila.

Lihat saja! Lihat saja sampai wanita itu kembali. Sampai wanita melihat sendiri betapa kecewanya dia pada mantan istrinya itu, betapa marahnya dia pada wanita itu, betapa merasa dirinya sudah dihianati. Tunggu, bukan dihianati, tapi wanita itu benar-benar sudah melupakan dirinya, dan Cakra tidak terima.

Saat Cakra mendengar suara mobil di luar, dia berlari dan menyingkap setengah tirai lalu mengintip lewat jendela. Wanita itu keluar dari mobil si pemilik kafe bersama temannya, dia tidak mungkin menampakkan dirinya di hadapan teman si wanita, jelas-jelas teman si wanita tidak pernah menyukainya. Sejak mereka menjalin hubungan pertama kalipun, teman si wanitanya selalu judes terhadapnya. Dia lalu melompat lewat jendela dan mengendap-endap di belakang rumah.

Sejak kapan kalian berhubungan? Tapi aku senang karena sepertinya dia adalah lelaki dan sosok ayah yang baik.

Oh, ayolah jangan bahas hal itu lagi. Dia memang orang yang baik dan perhatian.

Suara pintu terbuka, mereka berdua masuk ke dalam rumah sementara Cakra masih bersembunyi dan hendak mencari kesempatan untuk lari ke gerbang.

Dia tidak seperti mantan suamimu. Aku senang kalian bercerai.

Jangan bicara begitu, bagaimanapun juga,” ada jeda beberapa detik, Oh Tuhan, siapa yang melakukan ini?

Suara derap sepatu berlarian di dalam rumah, dan setelah memastikan semuanya aman, Cakra langsung berlari menuju gerbang. Dia tidak menengok lagi dan akan memastikan saat wanita itu sendirian barulah dia akan menemuinya.

***

Varsha tidak habis pikir kenapa Cakra melakukan semua ini. Kenapa lelaki itu datang lagi ke rumahnya? Lelaki itu benar-benar menerornya. Dia selalu menunggu Varsha di rumah dan bertindak sesuka hatinya, Varsha benci dengan sikapnya yang seperti itu. Padahal bukankah hubungan mereka sudah berakhir?

Dia datang lagi? Setidaknya kau tidak bertemu dengannya, sehingga ia tidak semena-mena padamu. Tapi lihatlah, apakah kau tidak mau melaporkan perbuatannya ini pada polisi?

Avanti membantu Varsha memungut benda-benda yang berserakan di atas lantai.

Tidak.

Jika Varsha melaporkannya ke polisi, lelaki itu pasti bebas juga karena memiliki kenalan seorang polisi. Setelah itu, lelaki itu pasti tidak akan berhenti meneror Varsha, membuat hidupnya tidak tenang. Jadi biarkan saja dia melakukan ini, besok kalau kemarahannya sudah reda, lelaki itu mungkin tidak akan datang lagi. Harap Varsha.

***

Lagi-lagi Cakra datang dan hati Sekar lega. Sejak menjejalkan botol bir ke dalam mulut Sekar, lelaki itu menghilang tanpa kabar. Meski begitu, Sekar masih saja mengkhawatirkannya. Seperti biasa, Sekar masih dengan pakaian pelayannya, masih belum shiftnya untuk melayani dan menyenangkan para laki-laki yang butuh ditemani.

Sekar menghampiri meja lelaki itu, kali ini dia datang bersama temannya yang baik, Suwa. Tapi di malam berikutnya, Sekar selalu menunggu kehadiran Cakra, hingga tiap malam Sekar harus berurusan dengan para laki-laki hidung belang yang tidak mencuri perhatiannya. Dia sudah berusaha memuaskan mereka, bahkan Madam Laras juga mengajarinya bagaimana cara untuk memenuhi kepuasan bagi para pelanggannya. Buktinya, beberapa malam ini para bos-bos kaya yang meminta untuk dipuaskan itu sering memberinya uang tambahan saat mereka sedang berdua.

Ini pesanan anda,sapanya ramah seperti biasa.

Sekar hendak pergi meninggalkan tempat itu, tapi tangannya buru-buru ditarik oleh Cakra sehingga kakinya mundur beberapa langkah. Mereka saling tatap satu sama lain.

Apakah kau mau menemaniku malam ini? Aku akan benar-benar baik padamu.

Dia senang melihat wajah tampan lelaki itu. Sekar kelihatan malu-malu dan mengangguk, lalu lelaki itu melingkarkan tangan di pinggangnya. Sekar mengulum senyum, menyentuh dan meraba wajah lelaki itu dengan tangan kanannya yang kosong.

Baiklah. Aku mau menemanimu, tapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu.

***

Gadis bar itu mengedipkan sebelah matanya pada Cakra, lalu melambai dan menjauh dari tempat mereka berdua. Sementara Suwa Praja heran, padahal kemarin gadis itu masih kelihatan baik, polos dan tidak nakal, tapi sekarang dia sudah seperti wanita malam yang rela dipegang-pegang oleh lelaki manapun.   

 Kau tahu, kalau kau seperti ini, Varsha tidak akan mau kembali padamu!Suwa Praja menuangkan whisky ke dalam dua gelas seloki.

Dia sudah tidak mau lagi kembali padaku.”

Cakra meneguk habis gelas seloki kecilnya, dan kembali menuangkan whisky. Tapi aku akan membuatnya kembali padaku, bila perlu merebutnya paksa dari lelaki itu, geramnya.

Lelaki itu? Pemilik kafe itu? Memangnya dia kenapa? Kalau kau masih mencintainya, kau harus mengubah kebiasaan burukmu ini. Baru Varsha mungkin memikirkan untuk bisa kembali padamu. Aku tidak heran kalau Varsha berpindah hati ke lelaki lain, kata Suwa yang hanya meminum satu teguk whisky. Dia tidak mau mabuk saat pulang ke rumah nanti.

Tatapan Cakra tiba-tiba berubah padanya, lelaki itu seperti marah. Tidak, seharusnya sebagai teman, dia harus mendukung semua keputusannya. Aku mau mabuk-mabukkan, aku mau merebut paksa Varsha kembali, itu bukan urusanmu. Jadi kau diam saja, tandasnya kesal.

Suwa hanya menggelengkan kepala, lalu mereka berdua diam. Hingga beberapa menit berikutnya, si gadis pelayan kembali lagi menghampiri mereka. Tapi kali ini, dengan pakaian yang berbeda, juga dandanan yang berbeda.

Suwa tampak heran, Jadi sekarang, gadis itu menikmati pekerjaannya untuk melayani para tamu?

 Bibirnya yang merah merona tampak tersenyum pada keduanya, Cakra membalas, tapi tidak dengan Suwa yang hanya bersikap cuek dan mengabaikannya.

Kau kelihatan berbeda, gumam Cakra yang kali ini menenggak botol whiskynya yang tinggal setengah.

Maksudmu? Gadis itu menggodanya, tangannya bermain-main di sekitar bahu Cakra.

Kelihatan lebih cantik. Kau mau ikut denganku malam ini?” tanya Cakra membiarkan tangan gadis itu menyentuh bahu dan lehernya.

Gadis itu mengangguk, lalu keduanya berdiri. Cakra tidak mengatakan apapun pada Suwa saat dia dan gadis pelayan itu meninggalkan tempat mereka.

Sementara Suwa hanya memperhatikan punggung kedua orang itu keluar meninggalkan bar. Suwa memukul meja kesal, kenapa temannya itu tidak mau diberitahu? Dia melengos ke meja kasir dan membayar, lalu meninggalkan tempat itu.  

***

Jelas-jelas dia akan selalu datang ke rumahmu, dan mungkin saja dia mengawasimu dari jauh. Sha, mungkin sebaiknya kau pindah dari rumah ini. Dia akan masuk sesuka hati dan mengganggumu. Atau sebaiknya, bagaimana kalau kau tinggal di tempatku saja? seloroh Avanti setelah mereka selesai merapikan rumah Varsha yang berantakan.

Saat dua gelas jus melon tiba di atas meja ruang tamu, Varsha langsung meneguknya hingga setengah. Jangan-jangan dia juga cemburu melihatmu bersama Raka, tambah Avanti tidak memperhatikan raut Varsha yang menatapnya tanpa ekspresi. Beberapa detik setelahnya, Avanti melirik pada Varsha yang belum juga mengalihkan pandangan padanya.

Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Batin Varsha.

Ayolah ... dia adalah lelaki yang baik. Kalau dia menyatakan perasaan padamu, kau harus menerimanya. Kau menyukainya juga, kan, Sha?

Varsha hanya memutar kedua bola mata kesal. Hubungan mereka tidak seperti apa yang dipikirkan oleh temannya itu.

Aku akan senang jika kita tidak membicarakan hal itu lagi, kata Varsha dan berhasil membuat Avanti bungkam.

Suara bel pintu berbunyi, Varsha meninggalkan Avantu di ruang tamu dan membukakan pintu untuk seseorang yang bertamu ketika sudah menjelang malam itu. Rupanya Arsa sudah berdiri sambil membawa roti yang dibungkus dengan plastik. Bocah kecil itu menyodorkannya pada Varsha dan wanita itu menerimanya dengan wajah riang.

Masuklah ... tante Avantu juga ada di dalam, kata Varsha.

Arsa masuk begitu saja dan mendapati Avanti tengah berbaring santai di atas sofa. Saat Avanti menyadari kehadiran Arsa, dia terkesiap sejenak dan melambai sambil menyapa, Hei,” pada Arsa.

Bocah kecil itu berkeliling di dalam rumah, sementara Varsha menaruh roti di meja konter yang ada di dapurnya.

Dia memang sering bermain di rumahmu, ya? Bukan hanya ayahnya saja, tapi anaknya juga ya, goda Avanti berjalan ke arah Varsha. Dia penasaran dengan bungkusan plastik yang dibawa masuk oleh Varsha.

Bu guru, tante ... aku pulang ya, kata Arsa setelah berkeliling di sekitar rumah Varsha.

Kenapa cepat sekali?

Nanti ayah mencariku. Aku belum memberitahunya kalau mau bermain di rumah Ibu Varsha, jadi aku harus pulang. Lagipula, paman Fazwan juga pasti sudah menungguku untuk bermain. Daaah.” 

Arsa berlari menuju pintu, Varsha mengekor di belakang Arsa, mengantar bocah itu hingga depan rumah.

Varsha memperhatikan Arsa yang berlari kecil hingga sosoknya menghilang. Lalu dia menutup pintu kembali. Varsha heran, tidak seperti biasanya, bocah itu pulang setelah berkeliling di rumahnya. Lalu Varsha hanya menggeleng dan kembali masuk menemui Avanti yang tengah mencicipi roti yang baru saja dibawakan oleh Arsa. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah