SUAKA - Kekerasan
Varsha Zanita baru saja pulang mengajar. Dia menumpangi mobil Raka dan lelaki itu menurunkannya di depan rumah. Varsha baru saja mengganti pakaian saat suara bel rumahnya berbunyi.
Siapa yang siang-siang begini datang ke rumah? Batinnya.
Saat dia membuka pintu, betapa kagetnya ia melihat sosok mantan suaminya sudah melambai di hadapannya. Varsha hendak menutup pintu, tapi laki-laki itu menghalaunya dengan kaki dan menarik pintu agar terbuka kembali.
“Pergi!” usir Varsha.
“Aku mau masuk,” katanya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah.
Lelaki itu berbau alkohol. Varsha mengejarnya, menarik bahunya, tapi saat laki-laki itu berbalik, tangannya melayang dan memukul Varsha.
“Jangan melarangku, aku berhak melakukan apapun semauku,” nadanya tinggi. Matanya marah saat menatap Varsha.
“Ini rumahku, aku berhak mengijinkan dan melarang siapapun masuk ke dalam rumahku,” teriak Varsha tidak terima.
“Kau, kau melaporkanku pada kakakmu, ya? Kau tahu apa yang sudah dilakukan kakak kesayanganmu itu padaku?”
Lelaki itu menjambak rambut Varsha. Dia menatap wajah lelaki itu, ada memar di sudut-sudut bibirnya. Pasti kakaknya sudah memukulnya. Sayangnya, lelaki itu kembali dan membalas apa yang sudah dilakukan saudaranya itu. Dia tidak melakukan apa-apa, kenapa dia yang harus jadi korban lagi?
Mantan suaminya menjambak rambutnya, membuat Varsha mengerang. Rona wajah lelaki itu kelihatan puas saat menyakitinya, Varsha hanya mengaduh dan menangis.
Jangan lakukan apapun, aku tidak suka kau sentuh. Batin Varsha.
“Sialan. Lelaki itu juga pasti sudah menyentuhmu, ya,” kata mantan suaminya mendorong Varsha hingga jatuh di dekat meja.
“Kenapa kau senang menemuiku? Kenapa kau senang menyiksaku? Apa yang sudah kulakukan padamu, Cakra?”
“Karena kau tidak mau kembali padaku, Varsha. Seharusnya kau tahu kalau aku mencintaimu,” kata lelaki itu mendekat ke arahnya.
“Tidak, kau tidak mencintaiku. Kau seorang misoginis.”
“Apa kau bilang?”
***
Arsa sudah mengganti pakaiannya saat ayahnya tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Ayahnya tesenyum dan mendekatinya.
“Bisakah kau membantu ayah?”
“Apa?” tanyanya polos.
“Antarkan makanan untuk Ibu gurumu. Sepertinya dia juga belum makan siang,” kata ayahnya.
“Baiklah,” kata Arsa semangat, “Ayah,” panggilnya lagi. “Ada hubungan apa antara Ayah dan Ibu Varsha? Teman-temanku bilang kalau sebentar lagi Ibu Varsha akan menjadi Ibuku,” katanya polos.
“Tidak ada hubungan apa-apa antara Ayah dan Ibu gurumu.”
Arsa merasa kecewa dan sedih. Padahal dia sangat berharap agar wanita itu dan ayahnya menikah. Setidaknya, dia akan senang kalau Ibu Varsha menggantikan posisi mamanya di hati ayahnya.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan perkataan teman-temanmu itu,” kata ayahnya.
Arsa merasakan tangan ayahnya menyentuh dan mengusap pucuk kepalanya lembut. Dia mengangkat kepala saat ayahnya sudah berdiri, lalu mengikuti lelaki itu keluar. Menunggu saat ayahnya membungkuskan makanan untuk ibu gurunya, lalu Arsa mengambil langkah buru-buru menyusuri tangga, melewati orang-orang yang berada di dalam kafe. Sejak kemarin, dia ingin bermain bersama gurunya itu.
Arsa melihat pintu rumah gurunya terbuka, dia pikir ibu gurunya sengaja membuka lebar-lebar pintu rumahnya. Tanpa mengetuk pintu dan mengucap salam, Arsa masuk begitu saja. Wajahnya yang tadi terlihat sumringah, kini kelihatan kaget melihat gurunya berada di tangan laki-laki yang tidak dikenalnya. Lelaki itu menjambak rambut gurunya yang sedang menangis.
“Sialan ... lelaki itu pasti sudah menyentuhmu.”
Dia kaget saat gurunya didorong ke depan meja. Sebenarnya Arsa ingin mendekat tapi dia begitu takut terhadap laki-laki jahat yang mengganggu ibu gurunya itu. Di usia anak-anak seumurannya, dia tidak begitu mengerti dengan perkataan orang dewasa. Lagi-lagi lelaki itu mendekati dan menarik baju gurunya, lalu mencekiknya tiba-tiba.
Apa yang harus dia lakukan?
Plastik makanan yang berada di tangannya tiba-tiba jatuh di dekat kakinya. Kedua orang itu sontak menoleh. Yang satu menatapnya dengan senyuman jahat, dan yang satunya lagi menatapnya dengan sedih, seolah menyuruhnya agar segera pergi dari tempatnya.
Dia akan celaka! Apakah dia harus kabur dan meninggalkan gurunya yang sedang disiksa oleh laki-laki jahat? Lelaki itu melepaskan gurunya, lahan-perlahan mulai mendekatinya. Arsa yang sejak tadi gemetaran mundur beberapa langkah. Lelaki itu menakutinya.
“Jadi ini anaknya? Sepertinya kalian sangat dekat, ya.”
***
Varsha kaget saat melihat Arsa yang tiba-tiba berada di rumahnya. Dia ingin menyuruh agar anak kecil itu segera kabur, tapi dia terlambat karena Cakra sudah melihatnya ada di sana. Kini sasaran Cakra sudah berubah, lelaki itu menghampiri Arsa yang masih diam mematung.
“Jangan sentuh dia, biarkan dia pergi. Kau hanya punya urusan denganku,” teriak Varsha. Tapi lelaki itu tidak juga mau mendengarkan.
“Jadi ini anak si duda itu, ya? Sepertinya kalian juga dekat, ya,” kata lelaki itu menyentuhnya.
“Jangan lakukan apapun padanya.”
“Apa? Aku hanya ingin berkenalan dengan bocah kecil ini,” kata Cakra menoleh sebentar pada Varsha, lalu kembali pada Arsa yang mundur ketakutan.
“Aku senang bertemu denganmu di sini, jangan takut padaku. Aku akan baik padamu, ngomong-ngomong ayahmu sudah sangat dekat dengan ibu gurumu ya,” kata Cakra.
“Tidak,” jerit Varsha saat melihat Arsa tersungkur ke belakang.
“Aku tidak suka kalau ada yang mengambil milikku.”
“Aku bukan milikmu, biarkan dia pergi.”
“Tidak, anak kecil ini,” Cakra menarik Arsa yang sudah tersungkur ke belakang dan hampir menangis, lalu mendorongnya.
Varsha berlari menangkap Arsa, lalu memeluk bocah itu. Keduanya ketakutan saat Cakra mendekati mereka.
“Cakra, dia tidak ada urusan denganmu. Aku akan melaporkan kelakuanmu pada polisi jika kau berani menyakitinya.”
“Seperti kau melaporkanku pada kakakmu. Hah? Laporkan saja kalau kau berani, aku tetap bisa keluar dari penjara dan akan terus-terusan mengganggumu. Dan anak kecil ini, dia tidak tahu apa-apa soal kita,” Cakra menarik Arsa dari dekapan Varsha, hingga tubuh kepala bocah itu membentur tembok.
Sekali lagi Varsha menjerit saat melihat anak muridnya diperlakukan seperti itu oleh mantan suaminya. Melihat kening bocah itu berdarah, Varsha langsung berlari hendak mendekatinya. Tapi lelaki itu meraih lengannya dan kembali menghempaskan Varsha ke sofa. Cakra mendekat dan menindihnya. Varsha berteriak, berusaha memukul lelaki itu agar turun dari atasnya.
Matanya masih menatap Arsa yang sedang melihatnya. Anak kecil itu mendekati mereka berdua dan memukul punggung Cakra, sehingga lelaki itu mengalihkan perhatiannya dari Varsha ke arah Arsa. Dia memukul Arsa dan sekali lagi mendorong anak kecil itu, hingga kepalanya membentur kaki meja.
Varsha hendak menolong Arsa yang tidak sadarkan diri, tapi Cakra lagi-lagi menariknya, membawanya ke kamar. Sebelum bayangan Arsa menghilang dari pandangan, dia masih bisa melihat darah segar itu menggenang di bawah kepala Arsa. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sementara Cakra saat ini menguasainya, Cakra yang jahat dan penuh nafsu sekarang bersamanya. Saat ini dia hanya berharap agar seseorang datang menyelamatkannya.

Komentar
Posting Komentar