SUAKA - Pagi


Lelaki paruh baya itu membolak-balik halaman koran, ada beberapa berita yang mencuri perhatiannya dan membuatnya penasaran. Di samping itu, dia juga tidak ada kerjaan lain selain memberi makan burung-burung di halaman belakang rumahnya, tapi karena dia sudah tidak berurusan lagi dengan hewan kesayangannya itu, akhirnya dia memilih duduk santai di depan rumah, menyuruh istri tercintanya untuk membuat kopi.

Apakah dia tidak pulang semalam?mata lelaki itu tidak lepas dari koran yang tengah dibaca, dia menyadari bahwa istrinya sudah ada di sana dengan nampan berisi secangkir kopi hangat yang baru diseduh.

Dia menginap di tempat temannya. Lagipula dia juga sudah dewasa.

Umurnya sudah wajib menikah, tapi dia tidak pernah membawakan menantu untuk kita.

Dia tidak mau mendengar. Dia masih ingin menikmati masa lajangnya, lagipula dia bisa diandalkan untuk menjaga adiknya.

Tidak selamanya dia harus begitu. Apakah dia mau melajang sampai tua? Bagaimana kalau kita sudah meninggal? Apakah dia mau hidup sendiri seperti itu? Dia bekerja, bekerja, dan bekerja sampai lupa bahwa dia juga harus memiliki seorang pendamping di hidupnya.

Lelaki paruh baya itu mulai mengomel dan istrinya yang tidak banyak bicara itu tidak senang mendengar kalau suaminya mulai memarahi anaknya.

Apakah dia tidak memikirkan kondisi Varsha yang sekarang ini sendirian juga? Istrinya justru memikirkan nasib anak perempuannya itu, bagaimanapun juga, Varsha tidak harus hidup sendirian saat ini. Setidaknya, jika dia tidak mau kembali lagi pada mantan suaminya, dia harus mencari lelaki lain yang bisa menjaga juga bisa diandalkan oleh putri bungsunya itu.

Suara mobil yang berhenti di halaman membuat percakapan mereka berhenti. Rupanya anak lelaki yang sejak tadi dibicarakan sudah muncul dengan rambut agak kusut, tapi wajahnya kelihatan cerah. Lelaki itu mengucap salam dan mengambil tangan kedua orang tuanya secara bergiliran, hendak dicium olehnya. Dia mengambil roti kering yang ada di dekat cangkir kopi milik ayahnya lalu masuk begitu saja.

Lihat kelakuannya, dia masuk begitu saja tanpa mengatakan apapun.

Setidaknya dia masih memiliki rasa hormat, apa tidak cukup dengan caranya menciumi tanganmu? Mungkin dia masuk karena ingin mengganti baju dan sebagainya, sudahlah ... jangan terlalu emosional, perhatikan kesehatanmu juga. Dokter Fadli sudah bilangkan, agar bukan hanya makanan saja, tapi emosi juga dikontrol,istrinya mengingatkan.

Kalau tidak seperti itu, mungkin dia sudah mengomeli anak laki-lakinya nanti saat dia hendak masuk ke dalam rumah.

***

Aku mau ke tempat Varsha,kata Wara setelah melewati ibu dan ayahnya yang saat itu sedang duduk di teras rumah.

Semalam dia menginap di rumah temannya, tapi hari ini dia mau mampir ke rumah saudarinya. Sudah beberapa hari ini dia tidak pernah menemui adik perempuannya itu. Varsha juga tidak pernah meneleponnya ataupun dia yang tidak pernah sempat menelpon saudarinya karena sibuk bekerja.

Tunggu sebentar,kata ibunya lalu masuk ke dalam rumah.

Wara duduk di samping ayahnya yang sedang membaca koran. Keadaan hening hingga ayahnya mulai bersuara.

Ibumu pasti mau membungkuskan makanan untuk adikmu. Sampaikan salamku padanya.

Baik,” kata Wara.

Lalu ibunya keluar dan memberikan tupperwear pada Wara. Setelah itu dia langsung pamit pergi.

***

Suasana di rumah itu tampak sepi. Apakah adiknya sedang keluar? Salahnya sendiri tidak mengabari Varsha sebelum datang. Dia keluar dari pagar lalu menuju kafe yang ada di sebelah rumah adiknya itu. Bosan juga jika adiknya tidak ada di rumah, jadi dia memutuskan ke kafe itu dan memesan segelas kopi.

Dia mendapati anak kecil itu berada di sana.

Siapa namanya? Dia hampir lupa. Oh, Senja ya? Anak kecil yang selalu baik pada saudara perempuannya itu. Anak kecil itu sedang bermain-main bersama seorang pegawai kafe itu.

Wara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kenapa saudarinya belum juga pulang? Apa si pemilik kafe tahu ke mana adiknya pergi? Apakah sebaiknya dia menanyakan pada lelaki itu saja? Wara meliarkan pandangannya ke sekitar kafe dan menemukan lelaki itu tengah berdiri menggunakan celemek tengah mencatat sesuatu di dekat meja kasir.

Wara, seru seseorang membuat pandangannya teralihkan.

Di sana dia melihat wanita yang dikenalnya, yang juga merupakan sahabat adiknya tengah berjalan menuju ke arahnya. Avanti, wanita itu mengambil tempat di hadapannya.

Kau tidak bersama Varsha, ya? tanya Wara

Tidak. Aku baru saja dari rumahnya dan tidak menemukan siapa-siapa di sana. Tapi aku baru saja teleponan dengannya, katanya dia sedang ada rapat bersama para guru,kata Avanti.

Begitu, ya?

Ngomong-ngomong, sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu karena Varsha mungkin tidak mau kalau kau sampai tahu apa yang terjadi padanya beberapa hari yang lalu. Avanti terlihat menarik nafas panjang.

Wara menyipit, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan wanita itu dengannya. Dia menunggu Avanti melanjutkan kalimatnya.

Beberapa hari yang lalu mantan suami Varsha, Cakrawala Adib datang ke rumah Varsha.

Wara kaget, kenapa lelaki itu bisa tahu tempat tinggal Varsha? Kenapa juga Varsha tidak langsung mengabarinya kalau Cakra sudah datang ke rumahnya? Apa yang dilakukan lelaki itu pada Varsha?

Avanti memperbaiki cara duduknya, Sepertinya Cakra ingin kembali rujuk dengan Varsha, tapi Varsha tidak mau dan lelaki itu memukulnya. Varsha, Varsha, dia baru berani cerita kalau aku tidak memaksanya.

Wajah Wara jadi merah menahan marah. Apa yang sudah dilakukan lelaki itu pada adiknya? Kenapa lelaki itu datang lagi dan mengganggu adiknya? Cukup sudah, Wara tidak mampu menahan dirinya. Dia harus memberi pelajaran pada lelaki kurang ajar itu.

Kau mau ke mana?tanya Avanti saat melihat Wara yang langsung berdiri sambil mengepalkan tangannya geram.

Mau memberi pelajaran pada lelaki itu.

Tidak. Jangan. Bagaimana kalau nanti Varsha tahu?

“Makanya jangan beritahu dia, Wara meninggalkan Avanti yang dengan wajah bersalah karena tidak bisa mencegah Wara.

***

Cakrawala Adib mendapati Suwa Praja dalam keadaan tertidur di meja kerjanya. Cakrawala Adib duduk di depannya, mulutnya berbau alkohol. Yah, semalam dia habis minum-minum hingga pagi tadi. Semalam hingga tadi pagi dia masih bersama gadis muda itu, gadis lugu itu setia berada di sisinya. Tapi sayang, Cakra tidak memiliki perasaan apapun padanya, dia hanya datang pada gadis itu ketika dia butuh. Namun, selalu saja gadis lugu menerimanya dengan baik.

Hei, sapa Suwa Praja yang sudah bangun.

Cakra hanya mengangguk dan melambai acuh. Selalu saja begitu, Suwa yang tidak mengerti lagi dengan sifat temannya itu hanya geleng-geleng dan hendak pergi ke kamar mandi. Suasana kantor mereka sepi karena hari ini libur.

Cakra.

Cakra menoleh saat seseorang memanggil namanya. Tanpa di duga, seseorang menghantam wajahnya dengan kepalan tangan hingga membuat ia jatuh terpental ke lantai. Cakra mengembalikan kesadarannya, bangsat mana yang tiba-tiba datang dan memukulnya. Belum sepenuhnya pulih dari rasa sakit, hantaman berikutnya pun menyerang perut dan wajahnya.

Brengsek. Pengecut kau. Hari ini, aku akan membunuhmu.

Sialan, akibat alkohol itu fisik Cakra tidak stabil. Dia begitu lemah dan tidak bisa melawan bajingan yang menyerangnya itu. Tubuhnya menerima begitu saja setiap pukulan. Berkali-kali Cakra terjerembab di kolong meja kerjanya, hingga beberapa menit setelahnya dia tidak menerima pukulan lagi.

Hentikan! Samar-samar Cakra mendengar suara Suwa.

Kalau kau berani datang menemui Jana, aku akan mematahkan kaki dan tanganmu.Suara itu sangat familiar sekali di telinga Cakra. Rauly Wara, kakak iparnya. Apakah Jana memberitahu kakak iparnya itu kalau mereka sudah bertemu?

Jika dia menyentuh dan menyakiti adikku lagi, aku tidak akan segan-segan membunuhnya.

Sekilas Cakra melihat tatapan kebencian, wanita itu pasti melapor pada kakaknya.

Awas saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah