SUAKA - Piknik
“Semuanya sudah masuk ke dalam mobil?”
Fazwan menutup bagasi mobil setelah memasukkan box terakhir. Arsa membawa pistol mainan bersama Raka yang keluar dari pintu kafe. Hari ini kafe diliburkan karena mereka akan piknik di sebuah taman yang berjarak empat kilometer dari rumahnya. Tak lupa juga mereka mengajak Varsha dan Avanti.
“Ada apa dengan dahimu?” Pertanyaan Laila tiba-tiba menghentikan tawa Varsha.
Mereka berenam sudah berada di dalam mobil, ketiga wanita itu duduk di kursi belakang, sementara Raka, Arsa dan Fazwan berada di kursi bagian depan. Fazwan memangku Arsa, bocah kecil itu tidak bisa diam dengan tembakan mainannya. Sejak tadi, itulah yang ditertawakan oleh Varsha, karena sepertinya Fazwan tampak kewalahan dengan bocah kecil itu.
Tadi pagi, saat Avanti tiba di rumahnya, dia mengabaikan pertanyaan temannya itu yang menyinggung soal perban yang ada di dahinya. Bahkan masih ada bekas memar di wajahnya, Varsha selalu mencari-cari alasan. Dan sampai sekarang, Avanti tidak sempat mendengar jawaban orang yang menyebabkan wajah temannya itu kelihatan babak belur.
“Ah, ini ....” Varsha memegang dahinya yang sudah dilapisi oleh perban. “Aku menabrak tembok kemarin saat bangun tidur,” katanya.
Varsha melirik ke arah Avanti yang menautkan kedua alisnya. Dia hanya membalas dengan senyuman pendek, namun wajah Avanti seperti tidak percaya dan meminta penjelasan yang lebih dari itu. Dia sebenarnya tidak ingin memberitahu peristiwa kedatangan mantan suaminya itu ke rumah pada siapapun, tapi sudah ketahuan duluan oleh Raka. Dan kini Raka sudah memegang rahasianya, lelaki itu tidak mungkin, kan bercerita pada siapapun?
Saat Avanti menarik tangannya, dengan reflek Varsha menjerit kesakitan. Mungkin salah satu efek saat dia didorong jatuh ke lantai oleh Cakra. Dia sudah merasakan sakit dari semalam. Hal itu membuat Avanti semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada Varsha.
***
Raka tiba-tiba menarik tangan Varsha setelah mereka turun dari mobil. Raka membawa wanita itu menjauh dari tempat parkir mereka, sementara yang lainnya mengeluarkan dan membawa barang bawaan mereka ke tengah-tengah area taman yang sepi.
“Apakah temanmu tahu soal luka yang ada di keningmu ini?” Raka menyentuh dahi Varsha, meraba pinggir perban yang membalut dahinya.
“Tidak.”
Varsha menggeleng.
Meski Varsha tidak yakin bahwa tak lama dari ini Avanti pasti akan tahu juga. “Tapi aku tidak yakin bahwa aku akan menyembunyikan ini darinya, karena sejak tadi matanya selalu mengawasi dan penuh dengan tanda tanya,” gumam Varsha memalingkan wajah sejenak.
Raka menangkup dagu Varsha, seolah tidak mau kalau wanita itu memalingkan mata darinya. “Itu terserah padamu, kurasa tidak apa-apa kalau kau memberitahunya,” kata Raka.
Varsha mengangguk pelan, lalu mereka kembali menemui yang lain, yang sudah mendapakan tempat untuk bersantai. Tikar berukuran tiga kali enam sentimeter sudah digelat di atas rumput hijau yang pendek-pendek. Arsa bersila, mengambil tempat di depan keranjang roti dan selai, Fazwan dan Laila duduk bersebelahan sambil sesekali tertawa. Sesekali Fazwan memainkan jari-jarinya di anak rambut halus milik Laila yang beterbangan akibat angin.
Sementara Avanti, wanita itu duduk sendirian di belakang Arsa. Dia seperti kebingungan, karena di sana hanya ada anak kecil dan dua pasangan muda yang tengah dimabuk cinta. Matanya langsung berbinar setelah mendapati Varsha yang tengah berjalan ke arahnya. Avanti langsung berdiri lalu berjalan ke arah Varsha dan Raka.
“Aku boleh meminjamnya sebentar saja? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya.”
Raka dan Varsha saling tatap satu sama lain, lalu Raka mengangguk dan meninggalkan kedua wanita itu. Avanti langsung menarik tangan Varsha menjauh dari tempat mereka.
***
“Sepertinya hubungan kalian tambah dekat, ya?”
Avanti membawa Varsha ke tempat yang banyak muda-mudinya. Ada beberapa pasangan yang tengah duduk di lingkaran taman bunga, ada juga yang tengah berjalan-jalan di sekitar. Mereka ke tempat area romantis pasangan remaja, dan di sanalah mereka berdua, di bawah pohon besar yang cukup rindang. Ada banyak dedaunan yang jatuh dan sudah mengering.
Varsha terkekeh malu,
“Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?” tanya Avanti. Wanita itu ikut senang jika temannya sudah mau membuka hati lagi untuk laki-laki lain.
“Hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan,” elak Varsha, meski bayangan ketika Raka memeluknya di sofa ruang tamu itu tiba-tiba muncul di kepalanya. Dia masih tidak percaya jika mendapat perhatian seperti itu dari ayah muridnya itu.
Apa yang terjadi denganku? Batinnya.
“Baiklah ....”
Avanti menaruh kedua tangan di pinggang, “Aku kembali pada pertanyaan awal, siapa yang melakukan ini padamu? Kau tidak mungkin menabrak tembok saat bangun tidur dan menimbulkan memar-memar di sudut bibirmu. Jangan banyak alasan, beritahu aku!” Avanti mulai menginterogasinya.
Varsha menghela pelan, “Cakra datang ke rumahku.”
Avant terkesiap, dia melepaskan tangannya dari kedua pinggang dan memandang kasihan pada Varsha. Namun tentu saja Varsha tidak suka dengan tatapan kasihan yang diberikan oleh temannya itu.
“Dia mencoba menyentuhku dan aku menghindar. Dia marah dan memukulku.” Varsha hampir menangis. “Dia masih tetap sama, dia orang yang keras,” saat Varsha mengangkat wajah, sudut matanya basah dan air mata itu mengalir.
Avanti terenyuh, ia langsung memeluk Varsha dan menenangkannya.
“Dia memang lelaki yang tidak baik untukmu. Kenapa kau tidak langsung meneleponku?”
“Bagaimana aku meneleponmu. Dia tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumahku, aku tidak tahu bagaimana dia bisa menyelinap begitu saja. Saat itu aku ketakutan setengah mati.”
“Apakah kau memberitahu Wara?”
“Tidak. Dan kumohon jangan memberitahunya soal Cakra yang datang ke rumahku, aku tidak ingin hal buruk terjadi pada hubungan orang tuaku dengan mantan besannya.”
Tentu saja. Kalau seandainya Wara tahu apa yang sudah dilakukan Cakra pada saudarinya itu, mungkin lelaki itu akan langsung melabrak Cakra. Dia tidak peduli pada apapun, karena baginya Varsha adalah seorang adik yang berharga, dan lelaki itu sangat menyayanginya. Dia tidak mau jika ada seseorang yang menyakiti Varsha.
“Tenang saja, aku tidak akan memberitahunya.”
Avanti melepas pelukannya dan mereka kembali berjalan di rerumputan yang hijau.
“Lalu apakah lelaki itu juga tahu? Si pemilik kafe?”
Varsha mengangguk,
“Dia datang setelah Cakra keluar dari rumahku dan mendapatiku dalam keadaan terluka,” suara Varsha setengah berbisik. “Kupikir, dia sangat baik. Dia bisa menenangkan seseorang dan aku merasa--”
Nyaman.
Lirih Varsha dalam hati. Raka tiba-tiba sudah membuatnya nyaman, dengan kata lain, dia sangat senang berada di samping lelaki itu.
“Merasa apa? Kenapa kau diam?”
Avanti tiba-tiba sudah berada di depan wajahnya. Mencari kebenaran dari mata Varsha akan apa yang tengah dipikirkan oleh wanita itu.
“Tidak apa-apa,” katanya singkat.
Hm ...
Sepertinya Avanti sudah menebak apa yang akan dikatakan oleh Varsha, jadi dia tidak menggoda temannya itu lagi. Kelihatan dari wajah Varsha yang sudah memerah dan merasa salah tingkah, Varsha buru-buru berjalan, hendak kembali menemui teman-temannya. Avanti mengikuti dari samping, sebagai teman dia merasa lega karena sepertinya Varsha menemukan cinta yang akan membangkitkan masa mudanya kembali.
***
“Seharusnya kami sebahagia ini dan orang tuaku bisa bermain bersama cucu-cucunya,” kata Varsha saat ia memindahkan potongan daging ke atas piring. Melihat Arsa, Avanti, Laila dan Fazwan tengah bermain bola voli membuat dia merasa bahagia. Dia menemukan orang-orang baru yang membuat hidupnya jadi sempurna, merasa lebih baik dari sebelumnya.
Raka melipat kakinya dan duduk di hadapan Varsha, bersiap untuk mendengarkan kalimat apa saja yang keluar dari mulut itu.
Jika tidak keberatan, kau boleh menceritakan hubungan pernikahanmu padaku. Karena berbagi sepertinya bisa membuat orang merasa lebih baik. Batin Raka.
Varsha menata piring-piring berisi daging panggang dan roti, lalu duduk kembali menghadap Raka, dia memperhatikan lelaki itu, menatap kedua iris matanya. Sekali lagi dia menghela, ada apa dengannya? Iris mata yang cantik, pasti mendiang istrinya suka menatap dalam dan memperhatikan kedua mata itu.
“Pernikahanku bertahan selama dua setengah tahun. Aku selalu memaklumi kesibukannya karena mantan suamiku adalah seorang detektif. Tadinya keluarga kami sangat bahagia, dia selalu lembut dan baik padaku. Dan begitulah ....” Varsha meraih botol minuman lalu menuangkannya ke dalam gelas, wanita itu meneguknya hingga habis.
“Hingga saat aku hamil, dia selalu perhatian padaku dan calon anak kami. Dia rela tidak berangkat kerja untuk menjaga kami seharian, saat-saat itu, aku menjadi istri yang paling bahagia di dunia, dia selalu menuruti apa yang kumau. Mungkin para istri akan iri melihatku karena memiliki suami seperti dirinya.”
Raka mendehem, tatapan Varsha tidak lepas dari lelaki itu. Dia memperbaiki posisi duduknya dengan menyilangkan kedua kaki.
“Tepat saat kandunganku hampir berumur lima bulan, aku terpeleset di tangga rumah. Ibu mertuaku menemukanku sudah tidak sadarkan diri dan aku mendapati diriku sudah terbaring di rumah sakit.” Varsha tersenyum kaku pada Raka, “Aku meraba perutku yang mengecil, tidak sebesar sebelumnya. Aku menangis seperti orang gila, menangisi bayiku yang tidak bisa diselamatkan. Dua orang suster menyuntikku, aku melemas dan dibaringkan di atas tempat tidur. Mataku yang sudah menyipit melihat Cakra duduk bersender di tembok.”
“Saat itu, terbangun dari tidur yang cukup lama sangat menyedihkan. Kalau bisa aku memilih,” kata Varsha sembari menatap sudut mata Raka yang masih setia mendengarkan, “Aku akan memilih untuk tidak bangun lagi. Aku mau menemui anakku di surga. Saat aku bangun dan masih dalam proses memulihkan diri, aku mendapat kabar kalau mereka sudah melakukan operasi pengangkatan rahim tanpa persetujuan dariku dan aku tidak bisa hamil lagi. Setelah operasi itu dilakukan, aku merasa sudah tidak menjadi wanita seutuhnya.”
Raka menjilati bibirnya, lalu berdehem, “Jangan mengatakan apapun lagi, aku tidak bermaksud membuatmu mengingat kisah sedih yang kau alami.”
***
Mantan suami Varsha pasti menyempatkan waktu untuk selalu menemani istrinya meskipun lelaki itu banyak pekerjaan. Tidak seperti dirinya yang meninggalkan istrinya saat tengah hamil. Bahkan mereka jarang bertemu. Raka bertanya-tanya, apakah Meera kesepian tanpa dirinya? Tentu saja. Tapi Varsha tidak seberuntung Meera yang berhasil menjaga anak mereka hingga lahir ke dunia. Orang-orang selalu memiliki keberuntungan yang tidak terduga. Varsha pasti mengalami kekerasan sejak dia kehilangan rahim dan anaknya, juga wanita itu pasti tidak bahagia dalam pernikahannya.
Keduanya saling mendekati satu sama lain, tubuh mereka berjarak satu sentimeter dan semuanya begitu singkat. Kalau dipikir-pikir, benar apa yang dikatakan oleh Fazwan, sepertinya dia harus mencoba dekat dengan seseorang. Saat itu juga, bibirnya hampir menyentuh bibir Varsha yang berwarna merah muda, kecil dan kelihatan manis itu. Namun tidak jadi karena Arsa sudah memanggilnya.
“Ayah.”
Keduanya langsung membuat jarak, mereka sudah kembali dari bermain voli. Keempat orang itu kelihatan kelelahan, tubuh Arsa penuh dengan keringat. Bocah kecil itu duduk di samping ayahnya, lalu berbisik, “Apa yang ayah lakukan dengan Ibu guru barusan?”
“Tidak ada. Ini minumlah!”
Raka mengambil botol minuman untuk Arsa dan memberikannya pada bocah kecil itu. Mereka semua duduk santai membentuk lingkaran, Avanti mulai bercerita tentang pekerjaannya di kantor, juga Laila berbagi pengalaman saat menghadapi pelanggan yang ngeyel dan minta untuk mengganti menu dan sesekali Fazwan ikut menyela. Begitupun Varsha yang menceritakan murid-muridnya di sekolah yang kadang disela oleh Arsa. Cerita mengalir dan semua orang tertawa bahagia.
***
Di tempat lain, seseorang tengah mengawasi. Dia mengikuti suv putih yang memuat enam orang itu. Sejak tadi dia duduk di beton yang ada di bawah pohon besar yang tak jauh dari tempat mereka. Pandangannya tidak lepas dari dua orang yang tengah duduk di atas tikar dan menjaga barang-barang bawaan.
Mereka pasti sudah lama menjalin hubungan. Batinnya.
Apakah tidak cukup dengan peringatan yang diberikan kemarin pada wanita itu? Dia akan melakukan apa saja agar wanita itu mau kembali padanya. Dia menendang batu kerikil sebesar kepalan tangan yang ada di dekat kakinya dan segera meninggalkan tempat itu.
Saat menuju mobil, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia tidak menjawab tiga panggilan sebelumnya, dia melekatkan ponsel di telinganya.
Seseorang dengan suara serak mulai berbicara dari seberang.
“Aku sudah membuat surat cuti untuk beberapa hari, kau bisa memeriksa di kolong meja kerjaku... ayolah Suwa, kau bisa membantuku.... Baiklah, aku ada urusan mendadak....” Dia membawa kendaraannya menjauh dari kawasan parkir taman ke pinggir jalan, “Aku harus membawa dia pulang. Bagaimanapun caranya. Meski.... entahlah, tapi kau tahu sendiri kalau aku masih mencintainya.... Aku tahu, karena itu akan membawa dia kembali dan membuat dia mencintaiku lagi.” Dia menutup telepon sebelum lelaki yang ada di seberang sempat berbicara, dia membuang ponselnya asal di kursi yang ada di sampingnya.
Dia pasti bisa membawa wanita itu kembali padanya. Pasti. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya agar segera sampai di tempat tujuannya. Walaupun mereka tidak punya anak, bukankah dia bisa mendapatkan seorang bayi dari orang lain?
Gadis polos itu, dia bisa mendapatkannya dari Sekar.

Komentar
Posting Komentar