SUAKA - Semua Akan Baik-Baik Saja!


Sejak tadi Raka menunggu anaknya yang belum juga kembali dari rumah ibu gurunya itu. Arsa tidak mengatakan kalau dia mau bermain di rumah wanita itu. Dan sekarang, tiba-tiba Raka jadi khawatir. Sesekali Raka mengintip ke rumah tetangganya yang kelihatan tenang itu. Dia tidak mendengar tawa renyah atau candaan seperti biasa.

“Izul baru saja menelepon, katanya dia mau bertemu, ada yang ingin dibicarakan denganmu,” kata Fazwan yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.

“Ada apa?”

“Ini berhubungan dengan kematian istrimu. Dia akan ke sini.”

Sepertinya Fazwan tidak menyadari kalau Raka sebenarnya kaget saat mendengar masalah kematian mendiang istrinya itu. Satu bulan setelah kematian Meera, tidak ada yang mengungkit kasus itu lagi. Karena tidak menemukan bukti apa-apa, mereka sempat menuduh orang lain sebagai pelaku tabrak lari dan berhasil menjebloskan orang tersebut ke dalam penjara.

Sekarang, Raka baru saja mendapat informasi bahwa mungkin saja orang-orang dari kemiliteran diam-diam menyelidiki kematian istrinya,lagi. Apakah karena mereka berharap agar Raka kembali ke kemiliteran? Tidak, dia sudah memutuskan berhenti dan merawat keluarga kecilnya.

“Suruh saja Izul menungguku jika ia datang. Aku mau melihat Arsa di rumah gurunya,” kata Raka lalu meninggalkan Fazwan.

“Biarkan saja dia bermain.”

Raka abai pada teriakan Fazwan. Dia menuju rumah Varsha dan mendapati pagar rumah itu terbuka. Pintu rumah Varsha juga masih terbuka lebar, dia mengetuk berkali-kali tetapi tidak ada yang menyahut. Akhirnya dia masuk karena heran melihat keadaan sekitarnya yang hening.

Apa yang sedang mereka lakukan di dalam rumah? Batinnya.

Raka masuk begitu saja. Namun betapa kagetnya dia saat melihat anaknya terkapar penuh darah di bawah meja. Dia langsung mengangkat anaknya dan khawatir.

Arsa, bangun. Hei, ini ayah. Siapa yang melakukan ini? Arsa, hei ….Raka terus memanggil nama anaknya. Tapi bocah itu tidak juga sadarkan diri. Raka merobek bajunya dan menghentikan pendarahan yang terus keluar dari tengkuk kepala anaknya.

Apa yang sudah terjadi di rumah Varsha? Dan di mana wanita itu sekarang? Dia menduga ada yang tidak beres. Dia menidurkan anaknya di atas sofa dan langsung pergi mencari Varsha. Saat itu juga Raka mendengar teriakan sekaligus tamparan yang keras dari dalam kamar. Raka mendobrak pintu kamar dan mendapati Cakra sedang menindih Varsha.

Raka langsung menendang laki-laki itu hingga tersungkur jatuh ke lantai. Sementara Varsha bangun dan membenarkan bajunya yang disobek oleh Cakra. Dia ketakutan, matanya sudah sembab. Raka segera membantunya berdiri.

Bagaimana dengan Arsa?”

“Dia di luar. Pergi dari sini dan bawa dia ke rumahku. Suruh Fazwan mengantar kalian ke rumah sakit,” kata Raka. “Cepat!” suruhnya saat wanita itu tidak bergerak dari tempatnya.

Setelah kepergian Varsha, Raka menarik kerah baju Cakra dan sekali lagi memukul lelaki itu dengan brutal. Apa yang dilakukan lelaki itu pada anaknya membuat dia marah. Kemarahannya semakin memuncak karena mendapati Varsha yang hampir diperkosa. Raka menendang perutnya, tidak membiarkan laki-laki itu membalas serangannya.

***

Varsha menggendong Arsa keluar dari rumahnya, memegang kepala anak kecil itu yang sudah dibalut kain baju Raka. Tanpa alas kaki ke jalanan dan menuju kafe yang berada di samping rumahnya itu. Dia tidak peduli dengan para pengunjung yang melihatnya tampak berantakan.

Fazwan yang saat itu tengah bersama seseorang kelihatan kaget melihatnya yang berantakan, begitupun orang yang tengah bersamanya. Kedua iris mata lelaki itu bergantian memandang Varsha dan Arsa yang tidak sadarkan diri.

“Kita harus ke rumah sakit sekarang,” katanya cepat.

“Di mana Raka?”

“Ada di rumahku. Kau harus mengantar kami ke rumah sakit. Oh, Arsa, bertahanlah,” getir Varsha.

Lelaki itu langsung mengambil kunci mobilnya dan berbicara dengan Laila, lalu segera menghampiri Varsha.

“Kau harus menunggu Raka kembali,” kata Fazwan pada lelaki yang sejak tadi bersamanya itu. Lelaki itu mengangguk.

“Tidak. Sebaiknya kau menolong Raka, karena ada orang jahat di rumahku. Bisa saja orang itu melakukan sesuatu yang buruk pada Raka,” suruh Varsha sambil menangis.

Lelaki yang bersama Fazwan itu mengangguk, setelah ketiga orang itu masuk ke dalam mobil. Mobil mereka melaju dengan cepat agar segera menangani kondisi Arsa yang tidak juga sadarkan diri. Varsha tak henti mendoakan keselamatan anak muridnya itu.

***

Pergulatan di dalam rumah itu belum juga berhenti. Sesekali Raka dihempaskan oleh pukulan dan tendangan Cakra. Sesekali juga dia membalas Cakra dan melemparnya ke atas meja ruang tamu.

“Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan istriku.”

“Tidak. Dia bukan istri sahmu lagi, kau sering menyakitinya,” kata Raka mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia mendekati Cakra yang terbatuk-batuk mengeluarkan darah, “Bangun, kau sudah melukai anakku. Aku tidak akan memaafkanmu,” katanya lagi memukul wajah Cakra hingga terbentur di tembok.

Lagi-lagi Raka menguasai Cakra. Dia menyerangnya tanpa ampun.

“Berhenti.”

Kalau saja seseorang tidak melerainya, juga tidak menjauhkannya dari Cakra, mungkin si detektif itu akan mati di tangannya. Raka memberontak, tapi lelaki yang memegang tubuhnya itu memukulnya hingga jatuh di lantai. Raka memperhatikan orang yang kini ada di hadapannya itu, lalu menarik nafas keras.

“Dia bisa mati, kau mau masuk penjara?” Lelaki itu menyadarkannya.

“Dia menyakiti anakku,” kata Raka, tiba-tiba teringat Arsa yang berdarah dan tidak sadarkan diri. “Bagaimana dengan anakku? Arsa. Apa mereka sudah membawanya ke rumah sakit? Aku harus ke sana sekarang,” suaranya goyah.

Fazwan sudah membawa mereka ke rumah sakit. Percayalah, Arsa akan baik-baik saja.”

Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi di luar rumah. Tiga orang polisi masuk begitu saja dan langsung memborgol tangan Cakra. Raka menoleh pada lelaki yang tak lain adalah Izul, bawahan Ishan, komandannya.

Mungkinkah dia yang melapor pada polisi? Batinnya.

Raka jadi ingat kalau Izul datang menemuinya karena ingin membicarakan sesuatu tentang istrinya yang sudah meninggal. Dia memandang lelaki yang lebih muda darinya itu dan menunggu hingga lelaki itu angkat bicara.

“Ada yang ingin saya sampaikan,” kata Izul yang seperti biasa masih menghormatinya.

“Aku tidak akan membiarkanmu memiliki Varsha.”

Mereka —Raka dan Izul— menoleh saat Cakra berteriak dan berusaha melepaskan dirinya dari dua orang polisi yang memegangnya. Kedua polisi itu membawa Cakra keluar dari rumah Varsha, lalu Raka kembali menghadap ke arah Izul yang berdiri di depannya.

Bagaimana kalau mereka membicarakan soal kematian istrinya nanti saja setelah Raka memastikan keadaan anaknya di rumah sakit?

“Aku harus menemui Arsa, aku mau melihat keadaannya,” katanya lemah.

Izul mengangguk, lalu mereka berdua juga meninggalkan rumah Varsha, Raka pulang ke rumah dengan bertelanjang dada karena bajunya digunakan membalut kepala Arsa yang terluka, dia melewati pintu belakang dan berpakaian cepat-cepat. Setelah itu menemui Izul yang tengah menunggunya di dalam mobil. Mereka berdua lalu menuju ke rumah sakit.

***

Varsha masih duduk di ruang tunggu saat dokter baru saja keluar dari ruang rawat Arsa. “Bagaimana keadaannya?” tanya Varsha yang langsung buru-buru berdiri.

“Dia mengalami cukup banyak pendarahan di kepala. Apa di sini ada yang bergolongan darah A?”

“Saya, dokter,” kata Varsha.

“Baguslah.”

Varsha mengikuti dokter tersebut, dia hendak melakukan transfusi darah untuk Arsa. Mereka tiba di ruang rawat Arsa, lalu Varsha berbaring di atas bangkar yang ada di samping tempat Arsa berbaring. Matanya tidak lepas dari bocah yang terbaring dengan bantuan sungkup oksigen dan selang-selang infus memanjang yang terhubung pada tiang infus di samping tempat tidurnya.

Dokter dan seorang suster mendekatinya, hendak mengambil darah. Jeritannya tertahan saat dokter menusukkan jarum suntik di pembuluh darah venanya. Setelah ini dia akan baik-baik saja, bocah itu juga akan baik-baik saja. Matanya menatap selang kecil yang kelihatan transparan mengalir di dalam kantung dan sesekali terpejam. Menunggu arahan dokter setelah darahnya selesai di ambil.

***

Raka dan Izul berlari-lari di lorong rumah sakit. Dia mencoba menghubungi Fazwan, tapi yang berbicara bukan suara Fazwan melainkan suara seorang wanita yang Raka duga adalah Laila yang masih berada di kafe. Beruntung saja saat dia dan Izul hendak bertanya pada petugas administrasi, Fazwan langsung muncul dan menghampiri mereka.

“Bagaimana keadaan Arsa?” tanya Raka saat mereka menuju ruangan tempat rawat Arsa.

“Dia kekurangan darah dan Varsha memberikan darahnya pada Arsa, golongan darah mereka sama,” tutur Fazwan.

“Syukurlah.”

Varsha kelihatan pucat saat Raka menghampirinya di ruang tunggu. Wanita itu kelihatan berantakan, bekas-bekas darah menempel di baju juga lehernya. Raka duduk di depannya dan mendapati wanita itu tiba-tiba menangis.

“Aku minta maaf,” kata Varsha. “Arsa mengalami hal ini gara-gara aku. Aku tidak bisa melindunginya dari Cakra.”

Raka meraih kepalanya dan merangkulnya lembut. “Ini bukan kesalahanmu. Terima kasih karena kau juga sudah memberikan darahmu pada Arsa sehingga dia bisa selamat,” kata Raka mencoba menenangkan. Meski begitu, wanita itu tetap saja terisak di pelukannya.

***

Varsha tergugu dan merasakan pelukan hangat dari Raka. Sepenuhnya Varsha merasa nyaman berada di samping duda itu. Lelaki itu melepas pelukannya saat dokter keluar dari ruangan. Sebelumnya dia juga tidak sadar kalau Fazwan dan seseorang yang tidak dikenalnya masih berada di sana. Kedua lelaki itu —Fazwan dan orang baru itu— mungkin akan bingung karena Raka tiba-tiba saja memeluknya.

“Darahnya cukup dan cocok, dia akan baik-baik saja. Kita tinggal menunggu Arsa bangun, tapi jangan biarkan anak itu banyak gerak,” kata dokter lalu meninggalkan mereka.

“Kalian sebenarnya ada hubungan apa?” tanya Fazwan yang tiba-tiba mendekati mereka, begitupun Izul yang sejak tadi hanya diam saja menatap Raka dan Varsha secara bergantian.

“Kami berhubungan baik,” jawab Raka.

Sementara Varsha hanya mengendikkan kedua bahu dan meninggalkan ketiga lelaki itu. Dia langsung masuk ke dalam ruangan Arsa dan memperhatikan bocah yang tengah berbaring dengan wajah tenang itu. Raka mendekat perlahan dan duduk di sampingnya, lalu tangannya pelan mengusap pucuk kepala Arsa penuh kelembutan.

Dia menoleh saat pintu terbuka dan mendapati Raka sudah berdiri di sana. Lelaki itu tersenyum ramah dan mendekatinya. Dia berbisik di telinganya, “Sepertinya kau juga harus di rawat. Lukamu juga harus diobati segera agar Arsa tidak sedih saat bangun dan melihat guru tersayangnya dalam keadaan kacau begini.”

Kacau? 

Sejak tadi dia memang tidak memedulikan apapun, termasuk rasa sakit yang mulai dirasakan di wajah dan punggungnya. Varsha berdiri dan menurut, sementara Raka membantunya ke ruangan lain hendak diobati oleh dokter. Selama Varsha berada di dalam ruangan itu, Raka tetap mengawasinya dan untung saja kondisinya baik-baik saja. Dan dia senang kalau ternyata lelaki itu mengkhawatirkannya.

***

Arsa memperhatikan sekeliling saat baru saja terbangun. Arsa merasakan sakit di bagian kepala dan mencari-cari ayahnya yang tidak juga didapatinya di dalam ruangan. Dia hanya menemukan Paman Fazwan nya yang tengah duduk di sofa.

Di mana Ibu guru Varsha? Batinnya.

Dia masih mengawasi sekeliling, Arsa berharap agar ayah dan ibu gurunya tiba-tiba muncul di pintu dan langsung memeluknya. Dia mengkhawatirkan ibu gurunya yang diperlakukan buruk oleh laki-laki jahat itu.

Paman Fazwan langsung mendekatinya, memanggil namanya berkali-kali, tapi dia masih lemah untuk bersuara. “Di mana Ayah?” suaranya kecil dan serak.

“Aku akan memanggil ayahmu, tunggu.”

Paman Fazwan langsung meninggalkannya begitu saja dan ruangan kembali sepi. Seseorang masuk ke ruangannya, tapi itu bukan ayahnya. Seorang dokter yang mulai memeriksa tubuhnya juga menanyakan keadaannya. Menusukkan jarum ke tangannya, tapi dia tidak banyak bertanya karena merasa lemah.

Orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Tapi ibu gurunya berpakaian beda seperti sebelumnya, sepertinya ibu gurunya itu juga dibaringkan, diperiksa seperti dirinya. Dia tersenyum saat kedua orang itu berada di sampingnya.

“Syukurlah kau sudah sadar.”

Ayahnya merangkul lembut dan dia merasa hangat dan tenang. Kemudian melepas lagi, dia tidak tahu apa yang diberikan oleh dokter padanya membuat dia tidak selemah seperti sebelumnya.

“Aku akan sembuh, ayah,” katanya bersuara. Semua orang kelihatan haru dan gembira, dia akan baik-baik saja dan akan segera keluar dari rumah sakit. Dia akan beristirahat penuh sehingga kesehatannya pulih kembali, lalu Arsa bisa bermain sepusnya setelah keluar dari rumah sakit nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah