SUAKA - Surat Dalam Peti (Epilog)


Varsha duduk di kursi goyang sambil memangku peti kecil di atas pahanya. Melihat-lihat album foto milik keluarga Raka. Di sana juga ada foto mendiang istri Raka, Lembayung Meera, mereka adalah keluarga bahagia. Di dalam peti kecil itu juga, Varsha menemukan sebuah kertas surat yang diduga adalah milik Meera. Sebuah surat yang pernah di tulis oleh Meera sebelum meninggal, mungkin sebuah wasiat. Tiba-tiba terbersit keinginan Varsha untuk membaca surat tulisan tangan itu. Matanya mengikuti baris per baris setiap kata di atas kertas.

Untuk wanita yang dicintai suamiku,

Aku sudah pergi saat kau menemukan surat ini. Aku sudah tidak ada pada kehidupan mereka saat kau membaca surat ini. Ada banyak yang ingin aku ceritakan, tapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana.

Hai ... Salam kenal, aku Meera. Istri Raka dan juga ibu Arsa. Aku harap kau bersabar pada kedua orang yang aku cintai melebihi apapun itu. Aku harap kau menyayangi dan menjaga kedua orang itu, sama seperti mereka juga nanti akan menyayangi dan menjagamu dengan baik.

Apakah Meera tahu bahwa dia akan meninggal makanya menulis surat ini?Batin Varsha.

Kuharap kau akan menjadi seseorang yang baik untuk Arsa. Demi apapun, aku sangat mencintai anakku. Dia adalah bayi hebat saat pertama kali aku melahirkannya. Kau tahu ... salah satu yang membuat seorang wanita yang sudah bersuami bahagia adalah ketika dia melahirkan. Melihat bayi kecilnya sehat dan tumbuh baik dengan cinta dan kasih sayang. Aku masih ingat ketika tangis pertamanya, juga pertama kali aku menggendongnya, aku merasa bahwa aku adalah seorang wanita sekaligus ibu yang paling bahagia di dunia.

Ada begitu banyak hal yang tidak akan pernah kulihat dan kulakukan bersamanya. Dan aku sangat sedih karena kelak aku hanya tinggal kenangan untuk Arsa pada saat dia dewasa dan akan menikah.

Tapi tidak apa, karena kau adalah istri dan ibu yang baik untuk suami dan anakku. Karena itu, sayangi Arsa seperti darah dagingmu sendiri, tuntunlah dia dengan baik sehingga dia bisa membedakan mana yang baik dan salah.

Dan suamiku, Caraka Kencana, dia adalah lelaki idaman dan mitra hidupku, kekasih serta sahabatku meski kami jarang bertemu karena dia harus berada jauh dariku. Meski begitu, Raka selalu berusaha menghubungi kami saat berada jauh di sana. Aku selalu khawatir karena demi melindungi negara, suamiku harus mempertaruhkan kehidupannya. Aku selalu khawatir bahwa bagaimana jika nanti dia meninggalkan kami dan tidak bisa bertemu dengan anaknya, tapi pemikiran itu gila ... Aku selalu berdoa untuk keselamatannya.

Hatiku hancur membayangkan jika nanti dia hidup sendirian dan mengurusi anak kami yang masih kecil. Untuk itu aku menulis surat ini, aku percaya Raka akan menemukan seseorang yang istimewa, seseorang yang mencintainya, dan seseorang yang bisa dia cintai, dia butuh itu.

Dan kini kau hadir. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.

Kalau kau mencintai Raka sekarang, cintailah dia seumur hidupmu. Buat dia tertawa dan nikmatilah waktu kalian bersama. Pergilah jalan-jalan dan nonton film dibalik selimut. Buatkanlah Raka sarapan, tapi jangan manjakan dia. Biarkan dia juga membuatkanmu sarapan supaya dia membuktikan bahwa menurutnya kau istimewa.

Aku juga ingin kau mencintai anakku, Arsa. Bantu dia mengerjakan PR, kecuplah keningnya dan selimuti dia sebelum tidur. Usaplah rambutnya pelan dan yakinkan dia bahwa dia bisa menggapai cita-citanya jika dia fokus. Buatkan makan siang untuknya, bimbing Arsa dalam berteman. Kagumi dia dan tertawalah bersamanya. Jadilah seseorang yang selalu ada, baik saat dia sedih maupun saat dia gembira, tuntun dia sampai menjadi orang dewasa yang baik hati dan mandiri.

Aku mohon, lakukan semua itu untukku. Lagi pula, kini mereka adalah keluargamu, bukan keluargaku lagi.

Temanmu di alam sana,

Lembayung Meera

Setelah Varsha selesai membaca surat dari Meera, dia menyeka air mata dan melipat surat itu kembali, lalu memasukkannya ke dalam peti kecil tersebut.

“Bu guru, ayah sudah menunggu di luar. Ayo!” suara Arsa yang tiba-tiba muncul di ambang pintu mengagetkannya. Varsha segera berdiri dan menaruh peti kecil itu kembali di atas meja dan keluar bersama Arsa.

Varsha menggandeng tangan Arsa dan menghampiri Raka yang sudah menyiapkan meja dan hidangan makanan untuk mereka bertiga. Suara musik pelan terdengar dari tape yang di taruh di meja pendek di samping meja makan mereka. Ketiga orang ituseperti keluarga bahagia, sesekali mereka bercanda, sesekali pula mereka penuh tawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah