LAKUNA - Lieben



“Ini dari ibuku, jadi kau harus menjaganya.”

Lelaki dengan iris cokelat pucat itu melingkarkan liontin perak pada lehernya. Gadis yang berkepang kuda itu mengangguk, berjanji akan menjaga liontin cantik sebelum mereka berpisah. Liontin itu adalah hadiah perpisahan. Sementara mereka menunggui mobil jemputannya, mereka berdua duduk di salah satu kursi panjang di depan rumah.

“Jangan lupakan aku,” lelaki itu setengah berbisik di telinganya.

Kedua mata Adhisti Lavanya terbuka. Siluet mentari yang tipis masuk lewat celah-celah ventilasi kamarnya. Sudah pagi dan dia bermimpi. Lelaki yang sama sudah berkunjung dua kali di dalam mimpinya.

Apa arti mimpi itu? 

Gadis yang kerap disapa Disti itu memindahkan selimutnya tepat saat pintu kamarnya terbuka.

Lelaki dengan dada bidang dan rambut pirang itu sudah berdiri di pintu kamarnya. Dia melipat tangan di bawah dada sambil tersenyum miring. Lihat, sekarang dia jadi malas untuk beranjak dari tempat tidur sebelum lelaki itu benar-benar menyuruhnya untuk bergegas keluar, atau setidaknya dia menunggui lelaki itu menjemputnya di atas tempat tidur.

“Apa yang sedang dilakukan oleh gadis pemalas kita hari ini?”

Atharya Dipta. Lelaki yang sudah empat tahun menjalin hubungan dengannya itu hanya menggelengkan kepala. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, lalu menghela pelan. Kenapa kekasihnya itu sering menyebutnya gadis pemalas? Dia tidak malas. Jujur saja, hari ini dia masih ingin tidur lebih lama lagi, dia merasa lelah sejak semalaman bolak-balik mengantar bunga kepada konsumen.

“Ayo ... kita harus segera bekerja!

Tanpa mengindahkan seruan lelaki itu, dia lebih memilih berbaring kembali dan menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya. Dia ingin membuat lelaki itu kesal agar mau menjemputnya di tempat tidur. Tunggu beberapa detik lagi, lelaki itu pasti akan ke tempatnya dan menarik selimutnya.

Benar saja !

“Ayolah ... Disti, kita harus menata bunga dan membuka toko. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu,” lelaki itu menyingkap selimutnya dan duduk di tepi tempat tidur.

Gadis yang di panggil Disti itu tersenyum dan duduk di sampingnya. Atharya, lelaki yang tinggal bersamanya setelah kehilangan ibu angkatnya, Catansia. Lelaki itu sudah seperti ayah, sahabat, sekaligus pacar baginya. Karena sifat dewasa dan penyabar Atharya, membuat Disti begitu menyayanginya.

Jika dia disuruh untuk memilih antara anak presiden atau Atharya, Disti lebih memilih Atharya. Karena lelaki itu adalah segalanya. Lelaki itu sangat memahaminya, dia juga sangat menyayanginya. Kapan lagi dia akan menemukan lelaki yang seperti itu? Tidak akan pernah.

“Aku membuat sandwich untuk sarapan pagi. Hari ini pekerjaan kita menumpuk,” kata Atharya. 

Disti mengangguk lalu menyimpirkan seluruh selimutnya dan berdiri di depan Atharya, mendahului lelaki itu keluar dari kamarnya.

Pak Pawana tidak akan marah jika kita terlambat beberapa menit untuk mengantar bunganya, kan?”

Gadis itu selesai membasuh wajahnya di wastafel dapur. Lalu bersender pada meja dapur dan menunggui Atharya membawakan handuk kecil untuknya. Lelaki itu melempar handuk dan ‘hup’, kali ini Disti berhasil menangkapnya. Wajahnya kini lebih cerah dari sebelumnya, rambutnya masih tergerai menutupi sebagian punggung. Anak embun yang jatuh dari bulu matanya mengalir di tulang pipi.

Atharya mendekat lalu menggulung rambut Disti hingga membentuk sanggulan bulat yang padat.

“Apa artinya aku bagimu? Disti bertanya. 

Atharya menaikkan sebelah alis. Lelaki itu mengambil garpu dan memukulkannya pelan pada kening Disti.

Puk ...

Disti meringis dan cemberut. Memangnya salah menanyakan, APA ARTI DIRINYA PADA SESEORANG YANG DICINTAI?

Kau berarti banyak.

“Seperti?

Atharya berpegangan pada meja dapur lantas mengulum senyum. Pasti menyenangkan membuat Disti penasaran dan menerka-nerka sendiri. Disti terlihat manis saat kedua alisnya menyatu karena sebal dan manyun tidak karuan. “Intinya, kau adalah gadis yang menjadi tanggung jawabku sempai seratus tahun lagi. Kita akan selalu seperti ini, keluarga yang bahagia. Selamanya.”

Atharya mengelus pucuk rambut Disti dan gadis itu menghambur memeluknya.

“Terima kasih,” bisiknya.

“Kalau begitu, kita harus sarapan dulu.”

Atharya melepas pelukan Disti dan mendahului gadis itu ke meja makan. Mereka menikmati sarapan pagi berdua, setiap hari akan seperti ini hingga seratus tahun lamanya, seperti janjinya Atharya pada Disti.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah