LAKUNA - Ragisméni Kardiá
Pagi itu Disti tampak kacau. Rambut panjangnya ia biarkan kusut dan tidak terawat. Wajahnya masih sembab karena terus-terusan menangis semalam. Lantai ubin Catansia masih basah karena kemarin ia langsung masuk begitu saja, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Dia tidak tidur di kamarnya, melainkan memilih tokonya yang setiap saat mengingatkan ia dengan Atha -kekasihnya.
Dia juga belum makan sejak kemarin. Dia enggan makan tanpa Atha ada bersamanya. Jelas saja, dapurnya masih bersih, tidak ada bekas spatula ataupun wajan di dekat wastafel, piring dan gelasnya juga masih tertata di rak. Sayur dan daging yang sudah mereka sediakan selama satu minggu kedepan masih segar di dalam kulkas. Pagi tadi, dia tidak mendengar suara pisau yang mengiris daging, wortel dan bahan lainnya di dapur. Celemek yang kemarin digunakan masih terlentang manis di samping kompor yang sudah mati. Mungkin Atha lupa menaruh pada kaitannya yang ada di samping pintu dapur.
Suasana tempat itu sepi. Hening. Gelap. Tirai-tirai Catansia belum dibuka, Disti tidak tahu apakah di luar sudah terang ataukah mendung? Sudah jam berapa ini? Dia tidak peduli, dalam benaknya hanyalah rasa rindunya pada Atha yang belum juga surut. Dia tidak terbiasa hidup sendirian seperti ini.
Lonceng pintu toko berbunyi? Padahal dia tidak membuka toko hari ini. Tiga, empat hingga lima kali, lonceng itu terus saja berbunyi, sampai-sampai pintunya pun digedor-gedor dari luar. Pakaiannya belum kering, Disti bangun dengan malas, lalu ia melangkah menuju pintu. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya, kemudian ia mendongak saat melihat seseorang yang sudah berdiri di depannya.
Lelaki itu hanya menghela panjang saat melihat Disti yang mengendap di daun pintu, wajahnya yang kusut membuat ia sulit untuk dikenali. Dia terlalu banyak menangis dan bahkan tidak mengurus dirinya sendiri.
“Makanlah. Bagaimana kau memiliki energi untuk menjalankan usahamu kalau tidak makan?”
Lelaki itu menyodorkan kantung plastik yang kelihatan penuh dengan makanan. Pelan-pelan, tangan Disti mengambilnya. Lalu gadis itu hendak menutup pintu, sesaat kaki lelaki itu menghalaunya.
“Ingat, kau harus makan! Aku akan mengawasimu!”
Ada-ada saja, memangnya siapa dia sehingga harus mengawasi Disti? Gadis itu sendiri tidak mengenalnya sama sekali, Disti menutup pintunya keras, lalu membuang kantung plastik berisi makanannya ke arah meja konter yang penuh dengan deretan box bunga. Ah ... dia baru sadar kalau tubuhnya terasa agak menggigil, menyadari kalau dirinya belum mengganti pakaian.
Bibirnya pucat saat ia berdiri di depan cermin kamar mandi, ah ... pakaian-pakaian itu, yang dua hari lalu tidak sempat dimasukkan kembali ke dalam lemari pakaiannya. Dia mengambil pakaiannya asal dan berganti di kamar mandi. Setelah berganti, ia mengurung diri lagi di kamar.
***
“Kau masih marah karena aku tidak mengangkat teleponmu?”
Nararya Aji Pamungkas mengunjungi Renaya Kirani di rumahnya. Lelaki itu bersender pada badan piano sementara Renaya pura-pura tidak menyadari kedatangannya. Di hadapannya sudah ada partitur-partitur musik. Gadis itu semakin memainkan pianonya dengan amat sadis dan tidak mau berhenti, sehingga Arya dengan isengnya memencet tuts-tuts piano yang menyebabkan suaranya jadi rusak.
Renaya geram, dia menyilangkan tangan di bawah dada sambil membuang wajah.
“Hei, apakah seperti ini caramu menyambut kunjungan seorang teman? Raut di wajahmu itu sangat jelek sekali.”
Arya menghela. Sudah empat hari mereka tidak bertemu, karena Renaya sedang berada di luar kota, mengunjungi kakeknya.
“Kenapa kau mengabaikan panggilanku?” tanyanya.
“Aku sedang melukis. Kau tahu sendiri, kan, aku akan melupakan sekitar kalau sedang melukis.” katanya. Dia duduk di sebelah gadis itu. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” Arya menekan-nekan tuts piano sehingga menghasilkan suara yang aneh.
Gadis itu berdehem, emosinya kembali surut. Kini dia sudah menghadap ke arah Arya sambil mengulum senyum. Lelaki itu balas tersenyum padanya, seolah ia jadi ingin membelai rambut merah velvet milik Renaya.
“Ricky melamarku!” katanya girang.
Kalimat itu serasa menampar Arya. Dia sungguh tidak ingin mendengar hal itu. Benarkah apa yang dikatakan Renaya? Ataukah gadis itu hanya membohonginya agar dia sakit hati? Tapi sepertinya tidak, melihat raut Renaya yang begitu bahagia dan akhir-akhir ini dia selalu bercerita soal si pengusaha muda yang bernama Ricky Hasan itu. Di setiap kesempatan saat mereka bersama, entah sejak kapan Ricky Hasan menjadi topik perbincangan hangat mereka. Arya mengerjap beberapa kali, dia membuang pandang ke arah lain. Dia sudah di dahului oleh orang lain. Nyatanya, gadis itu juga mencintai orang lain, bukan dirinya. Gadis itu tidak pernah melihatnya sebagai seseorang untuk dicintai, melainkan hanya seorang teman. Dan tetap seperti itu.
Mata Arya hampir berkaca-kaca. Sontak ia membuang pandang ke arah lain dan menarik nafas cukup lama. Apakah ia harus menghilangkan gadis ini dari pikirannya agar dia berhenti terluka? Tapi bagaimana mungkin? Dia terlanjur patah hati.
“Arya,” suara lembut dan tepukan halus Renaya menyadarkannya dari lamunan.
“Ah ... aku turut bahagia dengan pertunanganmu. Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia,” suaranya gemetar.
Sayangnya Renaya tidak menyadari hal itu, dia terlalu bahagia, sampai lupa bahwa seseorang yang sekarang di sampingnya tengah menangis dalam hati.
***
Nirwasita Niscala baru saja mengambil dedaunan yang jatuh di atas kursi panjang di sebuah taman. Hari ini, dia sudah membuat janji dengan temannya, Rawikara. Mereka berdua akan mengunjungi sebuah makam yang tidak jauh dari tempat ia berada sekarang. Tapi sudah tiga menit lewat, Rawikara belum juga muncul.
Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantelnya yang cukup tebal. Kota sudah memasuki musim dingin, mau tidak mau orang-orang harus menyimpan persediaan di rumah, juga setiap orang harus mengenakan mantel yang cukup tebal untuk mengatasi udara yang dingin di sekitar.
“Niscala.”
Rawikara menepuk punggung Niscala saat lelaki itu membelakanginya. Mata lelaki itu kelihatan sayu, Niscala tahu bahwa Rawikara pasti kurang istirahat. Bahkan mungkin tidak pernah tidur nyenyak karena mimpi buruk yang terus menghampirinya. Rawikara menyembunyikan wajahnya di balik topi hitam besar yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Lelaki itu membawa karangan bunga.
“Ayo,” kata Niscala. Daun yang baru saja ia ambil dari kursi itu masih berada di genggamannya.
Sementara Rawikara berjalan di sebelahnya. Mereka berpapasan dengan beberapa orang yang juga tengah mengunjungi pemakaman. Hari ini tempat pemakaman sedang ramai, beberapa kali kedua orang itu memberi hormat pada setiap orang yang mereka jumpai. Namun, begitulah cara kota itu bekerja, pemakaman adalah rumah bagi manusia. Semua orang adalah keluarga, entah keluarga atau bukan, kalau sudah berada di area pemakaman, maka mereka adalah keluarga.
Rawikara dan Niscala berhenti di depan sebuah pusara yang bertuliskan nama Lativa Kendari 1970-2012 (15 June 2012). Rawikara duduk di samping makam istrinya, sambil membaringkan karangan bunga yang ia bawakan untuk wanita yang sudah meninggalkannya itu.
“Aku membesarkan Arya dengan baik. Dia juga senang melukis seperti dirimu, walau sebenarnya aku lebih suka kalau dia menjadi seorang detektif sepertiku. Ah ... tapi aku tidak bisa melarang keputusannya, putra kita sudah dewasa.” Rawikara mengelus pusara istrinya. “Aku datang bersama Niscala.”
Sejenak Rawikara melirik ke arah Niscala yang sedang berdiri di depannya, lalu mengalihkan pandang pada makam istrinya, di bawah pusaranya membentuk tekstur indah garis-garis hijau berlumut. “Dia ingin menjengukmu. Bukankah teman kita ini sangat baik?”
Niscala menutup mulutnya dan terkikik.
“Lativa, aku akan selalu menjaga suamimu. Kau bisa percaya padaku. Lihat, sampai sekarang dia tidak mencari penggantimu. Di sini sudah ada aku yang setia di sisinya,” gurau Niscala.
Rawikara berdiri sambil berkata pada makam itu, “Kami harus pergi sekarang, berbahagialah. Dan terus pantau kami dari surga.”
Rawikara dan Niscala meninggalkan makam Lativa, kemudian menuju makam lainnya. Tempat itu tidak jauh dari tempat pemakaman Lativa, makam seseorang yang masih basah. Makam itu adalah milik seseorang yang baru-baru ini menyibukkan Rawikara untuk memeriksa semua berkas tentangnya.
“Tempat ini adalah suatu tempat yang akan dituju oleh semua manusia. Kau tidak sendirian. Kau, aku dan semua manusia yang dipanggil pasti akan ditempatkan di sini.”
Rawikara menarik nafas lelah, “Mungkin ini tidak adil bagimu, tapi aku akan berusaha menebus semua dosa-dosaku. Jadi jangan membenciku. Aku berjanji, di akhirat kelak, kita akan bertemu dan menjadi teman, aku akan baik padamu. Aku akan menjadi makhluk yang sangat baik padamu,” lirih Rawikara.
Niscala yang melihat temannya sedang terisak hanya menghela panjang.
“Kau tidak perlu seperti itu. Kata-kata tidak cukup. Kau hanya harus menepati janjimu saja. Lakukan dengan tindakan! Tuhan Maha Tahu, jadi kau tidak perlu khawatir. Orang-orang mati sudah berada di alam yang berbeda. Kau berurusan dengan dosa dan Tuhan, biarkan Tuhan saja yang menilai semuanya.”
Niscala menoleh pada Rawikara lalu mengangguk, setelah cukup lama mereka berada di sana sambil berkeliling ke beberapa makam lainnya yang juga merupakan kenalan Niscala, mereka pun meninggalkan tempat itu. Hari ini, tempat pemakaman lebih ramai dari hari biasanya.

Komentar
Posting Komentar