Lakuna - Krankenhause


Kamar itu gelap. Adhisti Lavanya, gadis yang sudah tiga hari mengurung diri di dalam rumah itu tampak kurus dan pucat. Dia berbaring tanpa selimut, sudah tiga hari ini juga kesedihannya tak kunjung surut. Mau bagaimana lagi? Seseorang yang sudah cukup lama berada di sisinya, kini sudah jauh meninggalkannya.

Sudah tiga hari ini pula, lonceng tokonya selalu berbunyi. Juga suara ketukan yang keras saat ia tidak beringsut keluar. Seperti saat ini. Setiap jam sepuluh pagi, lelaki paruh baya yang tidak ia kenal itu sudah berkali-kali membunyikan lonceng tokonya. Lonceng itu adalah tanda-tanda bahwa lelaki paruh baya itu sudah datang dan pastinya membawakan makanan untuknya. Kenapa lelaki itu kukuh mengunjunginya?

Apakah ia adalah malaikat penolong? Apakah ia adalah salah seorang kenalan Atharya yang akan menggantikan kekasihnya itu untuk merawatnya? Apakah ia hanya seorang pelanggan yang kasihan padanya karena mengetahui si penjual bunga kini hidup nelangsa?

Bunyi lonceng bergantian dengan ketukan pintu yang cukup keras. Malaikat atau apapun itu, terserahlah! Disti menggeliat kesal, dia menutup kedua telinganya dengan bantal, berharap agar lelaki paruh baya itu segera pergi dari depan tokonya. Tapi tidak hanya itu, suara dobrakan pintu juga terdengar, dengan setengah hati, Disti akhirnya bangun hendak membukakan pintu toko. Dia berjalan dengan agak lamban karena lemas, pintu toko kelihatan jauh dari jangkauan. Bagaimana tidak? Ia sudah tidak memakan apapun selama tiga hari berturut-turut.

Dia mendongak, menatap lelaki paruh baya yang lebih tinggi darinya. “Biarkan aku masuk kali ini saja,” katanya.

Memangnya siapa dia berani-berani menerobos masuk ke rumah seorang gadis yang tinggal sendirian? Disti merasa enggan, dia hendak menutup pintu. Namun tangan lelaki paruh baya itu cukup kuat sehingga pintu terbuka lebih lebar, ia tidak berdaya dan hanya melihat lelaki paruh baya itu sudah berada di dalam tokonya.

***

Rawikara menarik napas panjang melihat makanan yang dua hari lalu ia bawakan untuk gadis itu masih berada di dalam kantung plastik, persis seperti semula. Gadis itu tidak menyentuh makanannya sama sekali. Apakah ia mengira di dalam makanan itu ada racunnya sehingga gadis itu tidak mau memakannya? Padahal niat awalnya baik, dia tidak mau membiarkan gadis itu kelaparan. Lihat, gadis itu kurus kering dengan tulang yang kecil. Matanya begitu sayu dan tulang di pipinya kelihatan menonjol yang hampir keluar.

“Kau harus makan! Sudah kubilang, bagaimana kau akan mengurus tokomu jika kau tidak mau makan? Setidaknya, rawat dan lanjutkan apa yang ditinggalkan oleh kekasihmu. Jika seperti ini terus, kekasihmu yang sudah tenang di alam sana akan bergentayangan,” celotehnya.

Dia duduk di salah satu sofa tanpa lengan, kantung plastik makanan yang ia bawa diletakkan pada meja cokelat rendah di sebelahnya. “Di sini aku akan mengawasimu, kalau malu, anggap saja aku tidak ada. Jangan segan!tambahnya.

Ketika gadis itu baru saja mengambil beberapa langkah, ia terlihat linglung dan tiba-tiba tersungkur jatuh di dekat Rawikara. Gadis itu tidak sadarkan diri membuat Rawikara semakin gusar. Buru-buru ia membopong tubuh kurus itu dan membaringkannya di sofa dekat pintu.

“Hei, bangun … bangun.”

Berkali-kali Rawikara menepuk-nepuk wajah pucat itu, berharap agar gadis itu segera membuka matanya. Tapi tidak berhasil. Suhu badan gadis itu panas seketika ia letakkan tangannya di atas kening.

Astaga, gadis itu demam.

Ia kembali mengangkat tubuh kurus itu dan segera berlari keluar menuju mobil. “Bertahanlah,” gumamnya saat ia mendudukkan gadis itu di kursi bagian depan dekat pengemudi. Rawikara melepas jaketnya dan menutup tubuh gadis itu, kemudian ia melajukan mobilnya ke rumah sakit.

***

Arya baru saja kembali dari supermarket, lelaki itu membeli dua botol coca-cola, dua bungkus roti dan cat air untuk melukis. Di tengah jalan, dia melihat mobil ayahnya sedang terparkir di depan sebuah toko bunga yang tidak jauh dari tempat ia tinggal. Setiap kali ia lewat di sana, toko bunga itu selalu buka. Dia juga sering melihat lelaki yang seumuran dengannya sangat sibuk mengantarkan bunga dengan gerobak atau kadang juga membawa dua keranjang sekaligus dan ditata di atas motornya.  

Tapi hari ini, toko itu tutup.

Ia penasaran kenapa ayahnya ada di sana. Ada urusan apa? Ia terpaku sejenak ketika melihat ayahnya buru-buru keluar dari toko sambil membopong seorang gadis dan membawanya ke dalam mobil. Mobil itu melaju meninggalkan toko bunga, ada apa sebenarnya? Ia bingung sekaligus tambah penasaran, ada hubungan apa antara ayahnya dengan gadis itu?

***

Gedung rumah sakit Harapan menjulang tinggi. Di halaman depan, ada pohon dogwood yang tumbuh lebat. Rawikara membawa Disti ke dalam rumah sakit yang sedang ramai oleh para pengunjung dan pasien. Lelaki itu mendudukkan Disti yang pingsan di salah satu kursi tunggu yang ada di depan administrasi.

Rawikara? Sedang apa, ini anakmu, ya?”

Melanie, seorang suster yang berbadan besar dengan kulit cokelat menghampirinya. Wanita itu masih mengenalnya walau sudah lewat tujuh tahun lebih mereka tidak bertemu. Melanie mengintip dari balik bahu Rawikara dan mengernyit meminta penjelasan terhadap situasi yang tengah menimpa lelaki itu.

Melanie penasaran dengan siapa gadis muda yang tengah bersamanya itu, yang suster itu tahu bahwa Nararya Aji Pamungkas adalah anak lelaki satu-satunya dari Rawikara dan Lativa yang merupakan sahabat lamanya.

“Bukan! Dia hanya seorang kenalan. Dia butuh perawatan segera!” katanya.

Melanie segera memanggil beberapa perawat dan memindahkan gadis itu ke dalam ruangan agar segera di periksa.

“Sebelum itu daftarkan dia, di mana walinya?”

“Aku.

Mata Melanie bergerak, kemudian mengangguk ragu, “Dia seumuran dengan anakmu. Apakah dia teman Arya?”

“Bukan. Dia seorang gadis pemilik toko bunga yang tidak jauh dari rumah kami. Aku mengenal keluarganya, kami sering berlangganan bunga di tempatnya,bohong Rawikara.

Dia merasa lega, karena dokter sudah masuk ke dalam ruangan. Melanie menemaninya di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat.

Apa kau sering mengunjungi Lativa?” tanya suster itu.

Dia merindukan sahabatnya yang ia temui di rumah sakit. Hari-hari Lativa selalu bersama Melanie, dia juga merasakan kesedihan yang mendalam saat mengetahui sahabatnya tidak bisa diselamatkan. Melanie juga berada di dalam ruangan, menyalakan defibrilator untuk memastikan apakah jantungnya masih hidup. Wanita itu jatuh di bawah bangkar Lativa sambil menangis sementara dokter yang menangani Lativa terlihat putus asa, kemudian melangkah keluar ruangan. Arya yang bolos sekolah dan lebih memilih menunggui ibunya, mengekori dokter yang putus asa, meronta agar ibunya diselamatkan. Kasihan Arya, mengingat hal itu menyebabkan buliran air mata menggenang di pupil mata Melanie.

Dokter Bima yang menangani Disti keluar ruangan dan menghampiri kedua orang itu.

“Dia kelelahan dan makan yang tidak teratur membuat lambungnya bermasalah. Setelah pasien sadar, berikan ia makan,” katanya sebelum meninggalkan mereka berdua.

“Aku boleh menitipkannya padamu? Nanti malam aku akan kembali lagi, kau tahu kan aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku,” katanya sebelum Melanie mengangguk.

Lelaki itu berlari meninggalkannya, menjauh dari depan ruang tunggu.

“Terima kasih Melanie,” katanya melambai sebelum dia benar-benar menghilang dari belokan menuju pintu keluar.

Melanie berdiri memandangi ruang rawat yang sepi di depannya. Tatapannya terpaku pada gadis muda yang masih terbaring di atas bangkar. Ada kabel transparan yang menghubungkan cairan infus yang tertanam di punggung tangannya, sebenarnya siapa gadis itu? Rasanya tidak mungkin Rawikara meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menyelamatkan seorang gadis pemilik toko bunga?

Melanie masuk ke dalam ruangannya. Memandang wajah yang pucat itu, “Kau siapa? Di mana keluargamu? Kenapa kau diselamatkan oleh keluarga orang lain? Kalau anaknya sampai tahu--” Melanie diam sejenak, lalu menaikkan selimut rumah sakit hingga ke dadanya. “Sudahlah ... cepatlah sadar!”

Belum satu menit Melanie mengatakan hal itu, kelopak mata gadis itu bergerak, dia mengerang pelan dan matanya terbuka. Melanie tersenyum senang saat menyaksikan gadis itu bangun secepat itu, “Kau sudah sadar? Tunggu di sini, aku akan mengambil makanan untukmu. Kau harus makan!” katanya dan berlari keluar.

Sementara itu, Disti masih merasakan tubuhnya sangat lemah. Dia baru sadar kalau dirinya sedang berada di rumah sakit, kedua bola matanya memperhatikan sekitar. Ada cairan infus yang berada di samping bangkarnya, juga lemari rendah yang tidak ada apa-apa di atasnya. Sejak kapan dia berada di rumah sakit? Terakhir kali yang ia ingat adalah kedatangan lelaki paruh baya yang masuk ke dalam tokonya, kemudian setelah itu ... setelah itu, apa yang terjadi?

Suster yang tadi menungguinya kembali dengan nampan bubur khas rumah sakit. Dia membantu Disti duduk di bangkarnya. Saat ia hendak ingin menyuapi gadis itu, Disti berkata, “Aku bisa sendiri.” Tangannya pelan-pelan memasukkan sendok demi sendok bubur berwarna putih yang kental itu.

“Namamu siapa? Rawikara tidak memberitahuku namamu karena dia buru-buru pergi.” Kata Melanie yang menarik kursi plastik dan duduk di samping bangkarnya.

Disti melirik sebelum ia memasukkan sendok yang ketujuh ke dalam mulutnya. Apakah yang dimaksud adalah lelaki paruh baya itu? Apakah dia mengenalnya? Dan kenapa ia harus diawasi makan seperti ini? Kenapa juga lelaki itu menyelamatkannya? Dia sengaja menahan diri agar tidak makan dan supaya cepat menyusul kekasihnya, tapi sepertinya dia melupakan hal itu karena entah kenapa bubur rumah sakit kelihatan menggoda.

Disti,” katanya. “Setelah selesai makan apakah aku boleh meninggalkan rumah sakit?” tanyanya membuat suster yang sedang duduk di sampingnya hanya menggeleng.

“Tidak. Jangan pergi sebelum Rawikara datang. Kalau kau pergi kau harus membayar biaya rumah sakit atau tunggu walimu sampai ia kembali.” Suster itu mencoba menggertaknya.

“Aku tidak punya wali. Aku akan membayar biaya rumah sakit, tapi ijinkan aku pulang untuk mengambil uang. Aku janji akan kembali!” Disti tidak bernafsu makan.

“Seharusnya kau beruntung karena diselamatkan oleh orang lain dan mau bertanggung jawab.

“Untuk itu aku tidak mau,” tiba-tiba suara Disti melenyapkan kalimat Melanie. Suster itu langsung diam, “Aku tidak mau diselamatkan. Aku tidak mau orang lain yang tidak ku kenal menjadi waliku saat aku hampir sekarat. Kenapa tidak membiarkanku menggelepar berhari-hari saja di dalam rumah? Kenapa harus menolongku?”

Kekakuan Disti membuat sisi keibuan Melanie keluar, dia langsung memeluk Disti yang sedang menangis sesenggukkan. “Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi cobalah untuk membuka pikiranmu. Di dunia ini, semua orang berharap untuk selalu sehat dan hidup. Tuhan memberikanmu kehidupan, itu layak untuk kau syukuri. Bukan hanya dirimu, banyak orang lain yang kehilangan tapi mereka masih bisa bertahan sampai sekarang. Orang-orang yang sudah pergi akan merasa sedih jika melihat orang yang ditinggalkannya menderita dan menyakiti dirinya sendiri.”

Melanie mencoba menenangkannya.

Disti masih tetap menangis. Kenapa wanita yang sedang memeluknya itu terdengar seperti malaikat yang datang untuk membangkitkan semangat hidupnya? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah