LAKUNA - Kleines Mädchen


Garis-garis kuning pembatas polisi membentuk kotak di dekat tembok yang penuh ceceran darah itu. Cipratan darah memenuhi tembok dan jalanan gang yang sempit. Orang-orang berkumpul, ketakutan dan antisipasi bahwa kota mereka sedang tidak aman. Hari ini belum ada mayat yang ditemukan. Belum lagi, pihak polisi melarang warga masuk dan mendekat ke arah pembatas yang sudah di pasang. Rawikara dan Niscala tengah berada di sana memeriksa barang bukti. Mereka menemukan jari-jari seorang manusia. Di lihat dari bentuknya yang kecil dan halus, diduga itu adalah jari-jari milik seorang gadis. Apalagi beberapa kasus pembunuhan yang sekarang meresahkan warga dan pihak kepolisian itu memberikan kode keras, bahwa target si pembunuh adalah pasti seorang gadis muda.  

“Sepertinya dia lebih suka membuat kekacauan. Dia semakin seenaknya saja,” kata Niscala yang langsung di setujui dengan anggukan Rawikara. Lihat saja, korban-korban yang ditemukan tewas sebelumnya, tidak ada satupun yang kehilangan jari-jari tangan ataupun kakinya, kecuali hanya irisan nomor itu saja dan siksaan penuh yang diberikan pada korbannya.

“Jaga anak-anak gadis kalian. Kondisi di sini sedang tidak aman. Jangan biarkan mereka pulang sendirian atau pulang malam,kata Pak Kepala Lingkungan mulai memberi peringatan. Tentu saja semua warga takut, apalagi darah yang baru saja mereka lihat itu seolah seperti teror saja bagi semua orang.

“Kita akan bertemu di kantor,” kata Rawikara, ia keluar dari garis-garis pembatas dan menemui warga sekitar.

Sementara Niscala dan beberapa orang timnya mengikutinya di belakang. Mereka masuk ke dalam mobil dan pergi.

Untung saja jarak antara tempat kejadian yang sedang ia selidiki tidak jauh dari toko bunga Catansia. Saat ia sudah sampai di depan toko bunga itu, Rawikara mengintip dari jendela mobil. Tempat itu begitu tenang, dia tidak melihat adanya Arya ataupun Disti. Rawikara akhirnya keluar dari mobil dan menerobos masuk ke dalam toko yang terbuka itu. 

“Ayah ….

Arya muncul dari pintu belakang sambil membawa bunga melati yang sudah digunting bersama Disti yang sedang mengangkat bloom box dan meletakkannya di atas meja panjang.

“Paman,” sapa Disti.

Rawikara tersenyum pada keduanya, “Maaf jika Arya merepotkanmu. Aku membiarkanmu mengurus orang sakit dan para pelanggan pasti banyak yang berdatangan. Pasti merepotkan, ya ….”

“Tidak,” sahut Disti, “Tidak sama sekali. Kadang-kadang dia juga membantu,” katanya lagi.

“Oh iya … kalian harus berhati-hati. Beberapa hari ini, aku dan timku sedang menyelidiki kasus pembunuhan. Korbannya adalah gadis muda,” kata Rawikara sembari menoleh khawatir pada Disti. “Kami baru menemukan lima mayat, terakhir kami temukan mengapung di sungai,” katanya lagi. “Jangan keluar sendirian, jangan biarkan orang yang tidak kau kenal masuk ke dalam rumah. Berhati-hatilah,” pesan Rawikara pada Disti.

Kedua orang itu pamit. Disti mengantar keduanya sampai di depan toko. Arya yang khawatir tidak mengijinkan Disti untuk mengantar mereka sampai mobil.

“Jangan lupa mengunci pintu,” kata Arya sebelum menyusul ayahnya yang sudah menunggu di mobil. Arya sebenarnya mengkhawatirkan Disti karena gadis itu tinggal sendirian. Apalagi mendengar ayahnya barusan membuat ia terus-terusan memikirkan gadis itu.

Disti memandang punggung Arya yang masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu lesap meninggalkan tempatnya. Disti mengganti plat bertuliskan ‘OPEN’ dengan ‘CLOSE’. Tiba-tiba suara klakson membuat ia keluar lagi. Di luar sana sudah ada menantu Pak Pawana yang membawakannya satu rantang makanan.

“Ini dari ibu. Dia menyuruhku untuk mampir dan memberikan ini,” kata Andi.

Setelah Disti mengambil rantang nasi  dan mengucapkan terima kasih padanya, lelaki itu pamit dan meninggalkan Disti.

Disti kembali masuk dan mengunci tokonya. Dia membuka pesan dalam kertas yang baru saja diberikan oleh Andi dari istri Pak Pawana.

-Aku memasak lebih dan membagikannya denganmu. Jaga kesehatanmu, semoga kau menyukai makanannya.-

Disti menaruh rantang makanan itu di atas meja beserta pesan singkat dari istri Pak Pawana. Lalu dia ke kamar dan membersihkan diri.

***

Arya tengah duduk di daun jendela sambil menghisap rokok. Angin malam yang sejuk menerpa tubuhnya.Seharian ini ia tidak pernah merokok, karena itu sekarang ia ingin memuaskan diri menikmati sebatang rokok yang sudah beberapa hari ia biarkan menganggur di meja dekat alat-alat lukisnya. Bola matanya tidak lepas dari wajah seorang gadis yang ia lukis beberapa hari lalu sebelum kecelakaan itu terjadi.

Aneh. Gumamnya dalam hati.

Mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Namun, hasi lukisan itu menampakkan wajah yang sama. Semuanya sama. Bahkan sangat mirip. Dia melukis seseorang yang mirip dengan Disti. Apa hasil imajinasinya benar-benar hidup? Apa sekarang ia bisa menentukan masa depan lewat lukisannya? Sosok yang ia lukis itu kini benar-benar ada, benar-benar bertemu dengannya. Mereka bertemu setelah melukis wajah itu. 

Arya mengambil ponsel yang ada di atas meja. Sudah dua hari ini ia tidak membuka benda pipih itu. Baterainya habis, lantas ia segera menghubungkan pengisi daya pada benda pipih itu. Selama ia pergi, rupanya pnselnya mati.

Arya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memejamkan mata dan terlelap. Tidur itu membawa ia masuk ke dalam mimpi. Kala itu dunia kanak-kanaknya, di sana ada Paman Niscala juga dirinya yang masih kecil. Mereka berada di dalam sebuah gubuk reyot. Di sana tengah terbaring seorang gadis kecil di atas tempat tidur berbahan rotan. Dengan pakaian dan wajah kumal, juga kaki yang hampir hitam akibat cukup lama menginjak tanah tanpa alas. Paman Niscala mengambil air hangat dan membersihkan sebagian wajahnya.

Gadis kecil itu tiba-tiba meringis. Merasakan air hangat yang mengalir di wajahnya. Tiba-tiba saja ia mengerang. Arya kecil dan Paman Niscala saling tatap. Gadis kecil itu membuka matanya, lalu terbatuk-batuk. Paman Niscala membantunya duduk. Kemudian Arya kecil memberikan mangkuk bubur pada Paman Niscala lantas menyuapinya.

Suara pintu kayu pun terbuka. Paman Niscala menaruh kembali mangkuk berisi bubur di samping gadis kecil itu dan meninggalkan kedua bocah itu.

Arya kecil pelan-pelan mendekat, lalu duduk di samping gadis kecil itu. Mereka saling tatap satu sama lain, lalu gadis kecil itu bersuara, “Ini di mana? Kenapa aku bisa berada di sini?” tanyanya parau.

“Kau berada di tempat Paman Niscala. Dia menemukanmu di tengah hutan. Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja?” tanya Arya duduk di sisi tempat tidur.

Tangisan gadis kecil itu pecah seketika. Arya kecil coba menenangkan, tapi si gadis kecil tidak mau berhenti. Arya kecil setengah ketakutan alih-alih jika Paman Niscala memarahinya karena dikira sudah mengganggu dan membuat si gadis kecil menangis.

Arya bangun dan terhenyuk dengan mimpinya barusan. Ia menghela panjang. Ia menyalakan ponselnya yang sudah diisi dayang empat puluh persen. Ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk dari Naya. Sudah puluhan pesan yang dikirimkan oleh gadis itu, juga sudah belasan panggilan yang tidak dijawab oleh Arya. Demi kebaikan dirinya dan juga Naya, Arya mengabaikannya. Awalnya ia berpikir, jika sudah berkata yang sejujurnya pada Naya, maka gadis itu akan menjauh dengan sendirinya. Tapi nyatanya tidak, gadis itu meminta untuk bertemu lagi. Arya tidak mau meluangkan waktu untuk menemui gadis yang ia cintai, karena itu ia berusaha menghindar, alasannya biar dirinya tidak terluka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah