LAKUNA - Paint d Epict

 

“Namamu Disti, kan?”

Lelaki itu menyandarkan sebelah tangannya pada kaca mobil, sementara tangan yang lainnya fokus memegang kemudi. Sebentar-sebentar dia menghela, sebentar-sebentar dia berdehem, membuat Disti menoleh ke arahnya setiap kali lelaki itu membuat gerakan kecil atau mengeluarkan suara.

Kali pertama mereka bertemu di rumah sakit. Disti tidak pernah berpikir bahwa ia akan satu mobil dengan lelaki paruh baya itu. Ada luka sayatan berwarna hitam di punggung tangan kirinya.

“Iya,” jawab Disti.

“Jangan tegang hika bersamaku ya, santai saja,” kata lelaki itu sembari tersenyum.

Disti mengangguk dan membalas senyumannya.

“Bagi Arya kau pasti orang baik,” ujar lelaki itu terkekeh, sementara Disti hanya mengangkat kedua alisnya  bingung.

Apa yang sudah dilakukan oleh Arya?

Disti tidak mengerti, bukankah mereka baru bertemu beberapa kali dan mereka tidak begitu dekat. Ini adalah kali pertama Arya main ke tempatnya, mengunjungi tokonya. Lalu lelaki itu kecelakaan ditimpa oleh bangunan miliknya, karena itu Arya harus dirawat di rumah sakit. Bukankah lelaki itu ketiban sial karenanya? Ia jadi khawatir, apakah karenanya juga Atharya kecelakaan? Karena dirinya membawa sial, jadi orang-orang yang dekat dengannya ikut ketiban sial? 

Mobil jip itu kini berhenti di depan toko catansia. Sebelum Disti keluar dari mobil, ia berkata, “Tidak mungkin, kami baru kenal. Kalau Arya dekat-dekat denganku, mungkin dia akan kena celaka. Terima kasih atas tumpanganmu, Paman,” ia keluar dan menutup pintu jip dengan pelan.

Lelaki paruh baya itu menyembulkan kepala dari kaca jendela yang transparan. Ia hendak memanggil Disti, tapi gadis itu sudah berlalu begitu saja. “Yasudahlah,” begitu gumamnya.

Sementara Disti berlari ke dalam rumahnya, menyalakan lampu di beranda dan juga di bagian belakang karena hari sudah menjelang malam. Pijar kebiruan menelusup masuk ke dalam kamarnya, ia berbaring asal, seketika menutup kedua mata dengan punggung tangan. Lama-lama ia jadi terlelap di buai oleh mimpi.

***

“Selamat pagi …,” sapa Pak Pawana pagi itu saat mobilnya berhenti tepat di depan toko Catansia. Disti yang baru saja membuka tokonya setengah kaget dan membalas dengan senyum. “Aku senang karena sekarang kau sudah mulai membuka tokomu lagi. Beberapa hari ini istriku sangat mengkhawatirkanmu. Satu hari setelah kepergian Atha, istriku datang ke sini, memanggilmu, tapi sepi, kau tidak menyahut,” kata Pak Pawana.

“Sampaikan kepada istri bapak kalau aku sudah aku kembali. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku. Bagaimana keadaan Ibu Adibya?” tanya Disti masuk ke dalam toko yang kemudian diikuti oleh Pak Pawana.

“Baik. Nanti akan aku sampaikan pada istriku. Aku tidak menyangka kalau Atha secepat itu pergi, kuharap kau bersabar. Aku dan keluargaku turut berduka atas apa yang menimpanya. Padahal, aku menaruh harapan penuh padanya. Berharap agar kelak kalian bisa menjadi suami istri yang bahagia. Dia adalah orang yang tangguh dan selalu berbuat baik pada semua orang. Kenapa orang-orang baik selalu meninggal lebih dulu?” kata Pak Pawana.

Tanpa disadari, kalimat lelaki paruh baya itu membuat hati Disti muram. Harapan tinggal harapan, ia sudah kehilangan.  Pak Pawana dan Ibu Adibya sangat baik pada Disti dan Atha. Keluarga itu sudah seperti orang tua bagi mereka. Pak Pawana bekerjasama dengan mereka untuk memasarkan bloom box di pasar. Lelaki paruh baya itu adalah klien yang baik.

Pak Pawana memindahkan beberapa bunga yang sudah ditata di dalam box ke mobil sedan yang dibawa bersama menantunya. Andi. Mereka keluar masuk dari dalam toko membawa 5 box bunga.

“Bagaimanapun juga, itu sudah menjadi takdir Atha. Kita tidak bisa menyalahkan Tuhan atas apa yang menimpanya. Tabahkan dirimu, ya,” gumam Pak Pawana menyentuh pundak kecil Disti.

Kalau saja si pengemudi tidak melibasnya begitu saja, mungki Atha masih berada di sini. Entah si pengemudi tengah terburu-buru atau sedang mabuk makanya mengemudi dengan begitu cepat, hingga akhirnya Atha menjadi korban. Sampai sekarang, pengemudi itu belum ditemukan. Polisi juga tidak pernah melakukan interogasi, Disti sebenarnya ingin melanjutkan kasus kecelakaan yang menimpa Atha ke ranah polisi, tapi jika akhirnya nanti dia ditanya berapa nomor plat terakhir mobil yang menabrak kekasihnya itu, dia tidak tahu.

“Besok Andi akan datang memperbaiki tokomu,” kata lelaki tua itu bermurah hati.

“Terima kasih, anda sudah baik padaku dan Atha,” kata Disti.

Pak Pawana tersenyum, “Sudah?” katanya pada Andi. Menantunya itu mengangguk. Kemudian mereka berdua berpamitan pada Disti dan meninggalkan toko Catansia. Sesaat Disti melambai ketika sedan itu sudah menjauh meninggalkannya.

***

“Apa kau yakin akan langsung ke toko Disti? Kau tidak mau pulang ke rumah dulu?”

Sepanjang jalan itu, tak henti-hentinya Rawikara menanyakan hal yang sama pada anaknya yang tengah duduk di samping pengemudi. Arya tetap keras kepala ingin langsung bertemu dengan Disti sepulang dari rumah sakit. Menurutnya, daripada ia di rumah sendirian, lebih baik ia bertemu dengan teman barunya yang baik hati. Untung saja sebelum Rawikara menjemput Arya di rumah sakit, lelaki paruh baya itu sudah membelikan dua kotak kfc untuk mereka berdua.

Mobil milik Rawikara menepi di pinggir jalan. Lalu Arya turun sambil menenteng plastik berisi dua kotak kfc.

“Ayah tidak mampir, nanti kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” kata Rawikara sebelum meninggalkan Arya.

Arya mengangguk, kemudian melambai setelah mobil ayahnya berlalu.

Dari seberang jalan, Arya memperhatikan Disti yang baru saja keluar dari tokonya dengan stelan baju kaos dan rok lebar sembari memegang bunga soba dan sesekali menicum baunya. Wajah gadis itu tampak bersemu kemerahan, membuat Arya yang memperhatikan seketika menahan nafas kemudian tersenyum. Disti menghidu bau bunga yang tengah dipegangnya, gadis itu kelihatan bahagia. Arya segera menyeberangi jalan dan berseru, “Hei.” 

Disti menoleh padanya sembari mengulum senyum.

Gadis itu menatapnya, seolah takjub dengan penampilan Arya yang kini sudah berada di hadapannya.

“Kau menyimpan pakaian lelaki ya di rumahmu. Pakaian yang kau bawa ke rumah sakit milik siapa? Ayahmu? Kakakmu? atau Pamanmu?” tanya Arya.

Tiba-tiba raut wajah Disti berubah masam. Bukan. Pakaian itu milik Atha yang sudah meninggal. Merasa tak bisa menahan sesak, lantas Disti meninggalkan Arya ke dalam tokonya lalu menangis.

“Hei, ada apa?” tanya Arya yang bingung. Ia mengekor di belakang Disti khawatir dengan sikap gadis itu. Arya memutar tubuh Disti yang membelakanginya, kini mereka berhadapan satu sama lain.

Gadis itu menangis. Tangan Arya naik ke wajah dan menyentuhnya, mengusap buliran yang mengalir dari kelopak mata Disti. Gadis itu menatap dalam pada Arya, kemudian tiba-tiba saja menepis tangannya dan membuang wajah.

“Sepuluh hari yang lalu dia masih berada di sini. Dengan wajah yang selalu ceria dan kata-katanya yang romantis. Dia selalu memberiku semuanya, dia membuatku benar-benar hidup, menjadi orang yang tidak pernah kesepian. Dia membuatku bahagia, sampai-sampai aku menginginkan kehidupan yang panjang bersamanya. Sisi kebaikannnya tidak akan pernah kutemui pada orang lain,” kata Disti sesenggukkan.

Arya masih mendengarkan. Ia bahkan tidak tahu siapa yang tengah diceritakan oleh Disti. “Atharya Mahendra, dia adalah kekasihku. Dia melamarku malam itu. Kami begitu bahagia. Saking bahagianya, sampai-sampai takdir cemburu dan mendatangkan maut. Luar biasa, semesta memang sedang mengejekku. Hari-hari tanpa Atha sangat berat,” kata Disti melenguh panjang, “Sepuluh hari yang lalu tempat ini adalah syurga bagi kami, Arya,” katanya lagi.

Adhisti.

Arya menangkup wajah kecil Disti hingga gadis itu kini mendongak menatapnya, “Disti,” panggilnya lembut, kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Tiba-tiba tangis gadis itu pecah.

“Catansia adalah hidup kami. Catansia adalah kenangan kami. Disinilah Atha dan segala tentangnya, Arya. Di sinilah ia, dan selamanya ia akan hidup di sini,” suara Disti terdengar parau.

“Aku tahu … aku tahu … jadi buktikan pada semesta bahwa kau akan baik-baik saja meski tanpa Atha. Aku yakin, kekasihmu itu akan bangga dan bahagia di sana kalau kau menjalani hidupmu dengan baik. Dia aka bangga karena kau berhasil membalas ejekan semesta,” kata Arya memberi semangat. Ia melepas pelukannya dan mengusap wajah Disti yang sudah basah.

***

Keadaan berubah jadi canggung seusai pelukan singkat itu. Arya, lelaki itu menepi di dekat tangga sambil memperhatikan Disti yang sedang melayani dua orang pengunjung yang tengah melihat-lihat bunga dan bloom box di toko Catansia.

Tetiba Arya jadi menyesal, kenapa ia tidak mengambil alat melukisnya sebelum ke tempat Disti. Sayangnya, Disti tidak mengijinkan dirinya untuk membantu melayani para pengunjung. Dia juga tidak diizinkan untuk mengangkat apapun, itu tugas Disti saja. Begitu tegas Disti. Makanya sekarang ia hanya duduk menonton orang-orang yang keluar-masuk ke toko.

Setelah pengunjung sudah sepi, Arya mengajak Disti makan bersama. Membuka dua kotak kfc yang dibelikan ayahnya, lalu mereka menyantapnya bersama di meja makan.

“Ayah jarang pulang ke rumah. Jadi, kadang aku membeli makanan di luar, tidak ada yang memasak untuk kami setelah ibu pergi,” begitu kata Arya di sela mereka makan.

“Ibu? Ibumu sudah meninggal?” tanya Disti.

Arya mengangguk.

“Ibuku dulunya seorang pelukis. Mungkin kau pernah melihat lukisannya di gedung Paint d Epict, di sana ada beberapa mahakarya ibuku,” kata Arya.

Paint d Epict adalah sebuah museum besar di pusat kota. Dulunya Atha pernah berjanji akan membawa Disti ke sana, tapi tidak jadi. Hingga  maut mengambil Atha darinya, ia belum pernah pergi ke gedung itu. Dia pernah melihat seorang wanita yang tengah melukis di avenue garden. Kala itu ia tengah bersama ibunya. Ibunya pernah bilang, ‘Pelukis wanita adalah hasil cetakan tangan Tuhan yang memukau. Setiap lukisannya selalu mendapatkan harga yang tinggi, ia selalu mendapat sanjungan dari semua orang. Semua orang menyukai lukisannya. Sepanjang tahun ketenarannya, lukisannya itu memiliki harga yang tinggi dan selalu memesona semua orang.

Namun setelah kematian ibunya, Disti jarang pergi ke avenue garden dan melihat wanita pelukis itu lagi. Lalu ia bergumam, “Pelukis, ya?” dengan pikiran dan tatapan kosongnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sampai Jumpa - Perpisahan

Sampai Jumpa - Epilog

Sampai Jumpa - Perasaan Bersalah