Postingan

Sampai Jumpa - Tetangga Baru

Gambar
  Nakamura Akito menelusuri udara yang dingin. Apalagi ini adalah malam pertama turunnya salju. Semakin dingin, meski ia sudah membungkus tubuhnya dengan mantel berbulu. Nenek Hiyoko pasti sudah menungguinya di rumah. Wanita tua itu hanya menyuruhnya membeli obat pereda sakit kepala, di toko yang berada di ujung jalan. Dan untunglah ia sudah mendapatkan obat pesanan Nenek Hiyoko. Ia tidak mau berjalan ke apotek farmasi dengan menyeberangi jembatan yang lumayan jauh. “ Sepertinya akan ada penghuni baru di lingkungan ini.” Ia melihat mobil pengangkut barang yang baru saja lewat saat berangkat. Rupanya akan ada keluarga yang menempati rumah itu. Lagi. Setelah dua tahun rumah itu kosong, dan anak-anak kecil yang berada di lingkungan itu tidak berani lewat. Ada hantu.   Membuat semua orang ciut. Kousuke, anak kecil yang katanya pernah melihat bayangan putih atau entahlah, bercerita pada teman-temannya. Jadi, semua anak-anak yang sering bermain bersama Nakamura Akito jarang ...

Sampai Jumpa - Pindahan

Gambar
Di langit malam tanpa bintang. Angin malam yang lewat sangat dingin, hingga menembus mantel dan menusuk kulit. Setiap ruas jalan di sisi kiri dan kanan, membentang petakan sawah. Garis-garis penghalang selebar dua meter, juga ada yang seperempat meter membentuk liukkan ular. Keluarga Kodachi baru saja pindah ke desa Totsukawa.  Salah satu anggota keluarganya adalah seorang gadis berumur tujuh belas tahun yang berdiri di dekat tiang lampu yang redup. Matanya sibuk menatap layar ponsel yang sedang menyala, melihat sebuah berita tentang ‘Ditemukannya Mayat Di Pinggir Sungai  Kamo-Gawa’,  dan ‘Penangkapan Perdana Menteri ‘Doujin Shirakawa’ Di Kantornya’ . Sebenarnya, ia tidak begitu suka membaca berita. Ia memasang earphone ke telinga yang sejak tadi menggantung di leher. Memutar lagu, One Ok Rock yang memenuhi daftar musiknya. Saat ia ingin berpindah posisi dari tempatnya, tiba-tiba ia terpeleset dan terjengkang ke sawah. Celana dan mantelnya terkena lumpur, untung s...

Sampai Jumpa - Prolog

Gambar
  Pertama kali aku pindah sejak kelas lima SD. “Anna-chan, aku pasti akan selalu mengirim surat dan meneleponmu. Biarpun berpisah, kita akan tetap berteman.” Pembohong.... “Sampai jumpa, Anna-chan.” Aku paling benci kata-kata itu. Aku pikir, kami berteman baik. Mudah bagi seseorang untuk melupakan orang lain. Sesenang apa pun, pada akhirnya hari perpisahan tetap datang. Bahkan hingga sekarang, aku tidak pernah bertemu dengan anak yang mengucapkan sampai jumpa itu.

LAKUNA - Epilog

Gambar
  Dua orang sipir mondar-mandir di tengah lorong sambil membawa pistol dan alat pemukul. Pengawasan mereka tidak lepas pada orang-orang yang berada di dalam jeruji besi itu. Hingga seseorang berteriak, “Bebaskan kami,” lalu diikuti oleh para napi-napi yang sudah lama menetap di dalam sel tahanan. Sambil menendang dan memukul jeruji besi itu, si sipir tidak mau kalah, dia balas memukul masing-masing jeruji besi dengan alat pemukulnya. Keributan itu mulai berubah saat salah seorang sipir berteriak “Diam!” sambil memukul jeruji besi. Di sel tahanan paling ujung, seseorang tengah meringkuk. Dia tidak berani menatap siapapun atau mengatakan apapun. Wajahnya lelah dan lesu. Kerut-kerutan juga sudah mulai tergurat di atas keningnya, hampir semua rambutnya memutih. “Tahanan No 186, Rawikara Aji Pamungkas ada yang ingin bertemu denganmu,” si sipir mulai angkat bicara. Lelaki tua itu mengangkat wajahnya yang lesu, setengah merangkak dia mendekat ke arah jeruji besi, tangannya masih di ...

LAKUNA - Hilang

Gambar
  Arya tidak datang lagi. Pagi itu, Disti sudah membuka toko sambil menyetel musik keras-keras tanpa memedulikan penilaian orang yang lewat. “Adhisti, apa yang terjadi padamu?” gumamnya pada diri sendiri. Apa yang dilakukan Arya kemarin sore membuat ia kepikiran terus. Tiba-tiba saat ia tengah bersenandung ria, seseorang muncul dari belakang dan langsung membungkus kepalanya dengan kain hitam. Dia meronta, tangannya mencoba memukul-mukul ke belakang, berharap mengenai orang yang sedang berada di belakangnya itu. ‘Kena’ ia sempat mendengar, ‘aww’ dari orang itu. Disti merasa tidak punya kekuatan saat dirinya merasakan mata yang berkunang-kunang, semuanya gelap dan tubuhnya lemas. *** Sudah dua hari Niscala dan Rawikara menginap di dalam jip yang bersembunyi dibalik sesemakan. Mereka memantau keadaan tapi belum ada sesuatupun yang mencurigakan. “Bagaimana dengan Arya, apa dia tidak menanyakan sesuatu?” tanya Niscala. “Dia bertanya, apa kau mengetahui soal kecelakaan ...

LAKUNA - Jarak

Gambar
  “Apa yang sudah kau bilang pada Arya? Apa kau menceritakannya soal kecelakaan itu?” Niscala tiba-tiba menggerutu saat Rawikara menjemputnya pagi itu di toko Catansia. “Mau bagaimana lagi? Aku terpaksa memberitahunya karena aku akan merasa bersalah pada keduanya jika merahasiakan ini,” ujar Rawikara, “Aku tidak mau ada hubungan diantara mereka berdua. Aku tidak mau jika suatu saat Disti tahu soal kecelakaan itu dan akhirnya membenci Arya, karena bagaimana,pun aku tidak mau anakku terluka,” tegasnya. Niscala menarik napas panjang, lalu mengatakan, “Selama kita tidak pernah mengungkit-ungkit soal kecelakaan itu, semuanya aman-aman saja,” sembari memukul dashboard jip itu. “Padahal kau sendiri yang memintaku agar merahasiakan ini pada siapapun, tapi sekarang kau yang membocorkannya pada anakmu sendiri.” “Aku tahu apa yang terbaik untuk anakku.” Hening. Rawikara tetap fokus mengendarai jipnya sementara Niscala menyenderkan tangan kirinya. Pikiran mereka berkecamuk gusar. ***...

LAKUNA - Pengakuan

Gambar
Pakaian Atha membesar ketika dikenakan oleh Rawikara dan Niscala. Otot lengan dan dada keduanya kelihatan menonjol karena tubuh mereka yang berisi, setelah sebelumnya Disti dan Arya membongkar pakaian milik Atha dan berharap menemukan pakaian yang pas untuk keduanya. “Kenapa tidak ada kabar?” tanya Niscala ketika Disti membawakan kopi untuknya dan Rawikara. “Maaf paman. Kami pindah ke perbatasan kota, lalu ibu membawaku kembali ke sini dan membuka toko bunga ini,” jawab Disti. “Saya senang karena kamu tumbuh dengan baik.” Niscala memegang pucuk kepala Disti dan mengelusnya lembut. “Tiba-tiba aku lapar. Apa di sini ada makanan untuk kami?” tanya Rawikara tiba-tiba. “Dia tidak bilang mampir di supermarket sebelum ke sini, dia terburu-buru sekali,” lanjutnya. “Tenang, tenang, tenang … kami menyimpan makanan untuk kalian berdua,” kata Arya. Mereka berempat menuju meja makan. Kedua lelaki paruh baya itu tampak melahap makanan yang ada di meja makan dengan diwarnai celoteh juga c...